I.
Konsep
Medis
A.
Defenisi
ISPA adalah radang akut
saluran pernafasan atas maupun bawah disebabkan infeksi jasad remik atau bakteri,
virus maupun rikitsia tanpa atau disertai radang parenkim paru
ISPA adalah suatu tanda dan
gejala akut akibat infeksi yang terjadi pada setiap bagian saluran pernafasan
baik atas maupun bawah disebabkan oleh jasad remik bakteri, virus maupun
riketsin atau disetai radang dari
parenkim.
B.
Etiologi
Etiologi ISPA lebih dari 300 jenis
bakteri, virus, dan jamur. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus
streptokokus, stafilokokus, pnemokokus, hemofilus, bordetella, dan
korinebacterium. Virus penyebabnya antara lain golongan mikovirus, adenovirus,
koronavirus, pikornavirus, mikoplasma, herpesvirus.
Beberapa faktor yang diperkirakan berkontribusi terhadap
kejadian ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan, status gizi
kurang, dan buruknya sanitasi lingkungan.
C.
Patofisiologi
Masuknya kuman atau
virus ke dalam tubuh melalui sistem pernafasan mengakibatkan terjadinya reaksi
antigen dan antibody pada salah satu tempat tertentu di saluran nafas bagian
atas. Reaksi tersebut berupa reaksi radang, sehingga banyak sekali
dihasilkannya mukus seteret, dari reaksi radang tersebut akan merangsang
interleukin 1 yang berupa pengeluaran mediator kima berupa prostaglandin, hal
tersebut akan menggeser sel point pada hipotalamus posterior yang mengakibatkan
tubuh menggigil dan demam. Respon batuk akan muncul seiring dengan
terangsangnya villi – villi saluran pernafasan akibat adanya mukus.
Perjalanan alamiah
penyakit ISPA dibagi menjadi 3 tahap yaitu :
1.
Tahap prepatogenisis : penyebab ada,
tetapi belum menunjukan reaksi apa- apa.
2.
Tahap inkubasi : virus merusak lapisan
epitel dan lapisan mukosa tubuh menjadi lemah apabila kedaan gizi dan daya
tahan sebelumnya rendah.
3.
Tahap dini penyakit : Mulai muncul
gejala penyakit dibagi menjadi 4 yaitu dapat tumbuh sempurna, sembuh dengan
atelektatis, menjadi teronis dengan meninggal akibat pneumonia.
4.
D.
Manifestasi
Klinis
1.
Pilek biasa
2.
Keluar sekret cair dan jernih dari
hidung.
3.
Kadang bersi – bersin.
4.
Sakit tenggorokan.
5.
Sakit kepala.
6.
Batuk
7.
Skret menjadi kental.
8.
Demam.
9.
Neusea.
10. Anoreksia
11. Muntah
E.
Komplikasi
ISPA ( saluran pernafasan akut
sebenarnya merupakan self limited disease yang sembuh sendiri dalam 5 – 6 hari
jika tidak terjadi invasi kuman lain, tetapi penyakit ISPA yang tidak mendapatkan
pengobatan dan perawatan yang baik dapat menimbulkan penyakit seperti :
semusitis paranosal, penutuban tuba eustachii, lanyingitis, tracheitis,
bronchtis, dan brhonco pneumonia dan berlanjut pada kematian karena danya
sepsis yang meluas.
F.
Penatalaksanaan
penatalaksanaan dari ISPA adalah
1.
Medis.
a.
Diet cair dan lunak selama tahap akut.
b.
Untuk mengontrol infeksi, memulihkan
kondisi mukos yang antiboitik, misal amoxilin, ampixilin.
c.
Antistetik topikal sepertilidokain,
orabase atau diklorin memberikan tindakan peredaan nyeri oral.
2.
Keperawatan.
a.
Penyuluhan pada pasien tentang cara
memutus infeksi.
b.
Meningkatkan masukan cairan.
c.
Menginstruksikan pada pasien untuk
meningkatkan drainase seperti antalasi uap.
II.
Konsep
Keperawatan
A.
Pengkajian
· Riwayat kesehatan:
ü Keluhan utama (demam, batuk, pilek,
sakit tenggorokan)
ü Riwayat penyakit sekarang (kondisi
klien saat diperiksa)
ü Riwayat penyakit dahulu (apakah
klien pernah mengalami penyakit seperti yang dialaminya sekarang)
ü Riwayat penyakit keluarga (adakah
anggota keluarga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien)
ü Riwayat sosial (lingkungan tempat tinggal
klien)
· Pemeriksaan fisik difokuskan pada pengkajian sistem pernafasan
a.
Inspeksi
>Membran mukosa hidung-faring tampak kemerahan
> Tonsil tampak kemerahan dan edema
> Tampak batuk tidak produktif
> Tidak ada jaringan parut pada leher
> Tidak tampak penggunaan
otot-otot pernafasan tambahan, pernafasan cuping hidung.
b.
Palpasi
>Adanya demam
>Teraba adanya pembesaran
kelenjar limfe pada daerah leher/nyeri tekan pada nodus limfe servikalis
>Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid
c.
Perkusi
>Suara paru normal
d.
Auskultasi
>Suara nafas
vesikuler/tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru
B.
Diagnosa Keperawatan
1.
Peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi
Ø Tujuan
: suhu tubuh normal berkisar antara 36 – 37,5 °C
Ø Intervensi:
a.
Observasi
tanda-tanda vital
b.
Anjurkan
klien/keluarga untuk kompres pada kepala/aksila
c.
Anjurkan
klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan dapat menyerap keringat seperti
pakaian dari bahan katun.
d.
Atur
sirkulasi udara
e.
Anjurkan
klien untuk minum banyak ± 2000 – 2500 ml/hari
f.
Anjurkan
klien istirahat di tempat tidur selama fase febris penyakit.
g.
Kolaborasi
dengan dokter:
-
Dalam
pemberian terapi, obat antimikrobial
-
Antipiretika
Ø Rasionalisasi:
a. Pemantauan tanda vital yang teratur
dapat menentukan perkembangan perawatan selanjutnya
b. Dengan memberikan kompres, maka akan
terjadi proses konduksi/perpindahan panas dengan bahan perantara.
c. Proses hilanganya panas akan
terhalangi untuk pakaian yang tebal dan tidak akan menyerap keringat.
d. Penyediaan udara bersih
e. Kebutuhan cairan meningkat karena
penguapan tubuh meningkat
f.
Tirah
baring untuk mengurangi metabolisme dan panas
g. Untuk mengontrol infeksi pernafasan
dan menurunkan panas
2.
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan
tubuh b.d anoreksia
Ø
Tujuan:
ü Klien dapat mencapai BB yang
direncanakan mengarah pada BB normal.
ü Klien dapat menoleransi diet yang
dianjurkan
ü Tidak menunjukkan tanda malnutrisi
Ø
Intervensi:
a.
Kaji
kebiasaan diet, input-output dan timbang BB setiap hari.
b.
Berikan
makan porsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat.
c.
Tingkatkan
tirah baring
d.
Kolaborasi:
konsultasi ke ahli gizi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien
Ø Rasionalisasi:
a.
Berguna
untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan BB dan evaluasi keadekuatan
rencana nutrisi.
b.
Untuk
menjamin nutrisi adekuat/meningkatkan kalori total
c.
Nafsu
makan dapat dirangsang pada situasi rileks, bersih, dan menyenangkan.
d.
Untuk
mengurangi kebutuhan metabolik
e.
Metode
makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan individu
untuk memberikan nutrisi maksimal.
3.
Nyeri akut b.d inflamasi pada membran mukosa faring
dan tonsil
Ø
Tujuan:
nyeri berkurang/terkontrol
Ø
Intervensi:
a.
Teliti
keluhan nyeri, catat intensitasnya (dengan skala 0 – 10 ), faktor yang
memperburuk atau meredakan nyeri, lokasi, lama, dan karakteristiknya.
b.
Anjurkan
klien untuk menghindari alergen/iritan terhadap debu, bahan kimia, asap rokkok,
dan mengistirahatkan atau meminimalkan bicara bila suara serak.
c.
Anjurkan
untuk melakukan kumur air hangat
d.
Kolaborasi:
Berikan obat sesuai indikasi (steroid oral, IV, dan inhalasi, & analgesik)
Berikan obat sesuai indikasi (steroid oral, IV, dan inhalasi, & analgesik)
Ø Rasionalisasi:
a.
Identifikasi
karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat
penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan
dari terapi yang diberikan.
b.
Mengurangi
bertambah beratnya penyakit
c.
Peningkatan
sirkulasi pada daerah tenggorokan serta mengurangi nyeri tenggorokan.
d.
Kortikosteroid
digunakan untuk mencegah reaksi alergi/menghambat pengeluaran histamin dalam
inflamasi pernafasan. Analgesik untuk mengurangi nyeri.
4.
Risiko tinggi penularan infeksi b.d tidak kuatnya
pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun)
Ø Tujuan: tidak terjadi penularan, tidak terjadi komplikasi
Ø Intervensi:
a.
Batasi
pengunjung sesuai indikasi
b.
Jaga
keseimbangan antara istirahat dan aktivitas
c.
Tutup
mulut dan hidung jika hendak bersin
d.
Tingkatkan
daya tahan tubuh, terutama anak dibawah usia 2 tahun, lansia, dan penderita
penyakit kronis. Konsumsi vitamin C, A dan mineral seng atau anti oksidan.
e.
Kolaborasi
pemberian obat sesuai hasil kultur
Ø Rasionalisasi:
a.
Menurunkan
potensi terpajan pada penyakit infeksius
b.
Menurunkan
konsumsi atau kebutuhan keseimbangan O₂ dan memperbaiki pertahanan klien terhadap infeksi,
meningkatkan penyembuhan.
c.
Mencegah
penyebaran patogen melalui cairan
d.
Malnutrisi
dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi.
e.
Dapat
diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan
sensitifitas atau diberikan secara profilaktik karena risiko tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar