Kamis, 20 Februari 2014

INFEKSI SALURAN PERNAPANASAN ATAS



I.     Konsep Medis

A.  Defenisi
ISPA adalah radang akut saluran pernafasan atas maupun bawah  disebabkan infeksi jasad remik atau bakteri, virus maupun rikitsia tanpa atau disertai radang parenkim paru
ISPA adalah suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi pada setiap bagian saluran pernafasan baik atas maupun bawah disebabkan oleh jasad remik bakteri, virus maupun riketsin  atau disetai radang dari parenkim.

B.  Etiologi
Etiologi ISPA lebih dari 300 jenis bakteri, virus, dan jamur. Bakteri penyebabnya antara lain dari genus streptokokus, stafilokokus, pnemokokus, hemofilus, bordetella, dan korinebacterium. Virus penyebabnya antara lain golongan mikovirus, adenovirus, koronavirus, pikornavirus, mikoplasma, herpesvirus.
Beberapa faktor yang diperkirakan berkontribusi terhadap kejadian ISPA pada anak adalah rendahnya asupan antioksidan, status gizi kurang, dan buruknya sanitasi lingkungan.
C.  Patofisiologi
Masuknya kuman atau virus ke dalam tubuh melalui sistem pernafasan mengakibatkan terjadinya reaksi antigen dan antibody pada salah satu tempat tertentu di saluran nafas bagian atas. Reaksi tersebut berupa reaksi radang, sehingga banyak sekali dihasilkannya mukus seteret, dari reaksi radang tersebut akan merangsang interleukin 1 yang berupa pengeluaran mediator kima berupa prostaglandin, hal tersebut akan menggeser sel point pada hipotalamus posterior yang mengakibatkan tubuh menggigil dan demam. Respon batuk akan muncul seiring dengan terangsangnya villi – villi saluran pernafasan akibat adanya mukus.

Perjalanan alamiah penyakit ISPA dibagi menjadi 3 tahap yaitu :
1.     Tahap prepatogenisis : penyebab ada, tetapi belum menunjukan reaksi apa- apa.
2.     Tahap inkubasi : virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa tubuh menjadi lemah apabila kedaan gizi dan daya tahan sebelumnya rendah.
3.     Tahap dini penyakit : Mulai muncul gejala penyakit dibagi menjadi 4 yaitu dapat tumbuh sempurna, sembuh dengan atelektatis, menjadi teronis dengan meninggal akibat pneumonia.
4.      
D. Manifestasi Klinis
1.     Pilek biasa
2.     Keluar sekret cair dan jernih dari hidung.
3.     Kadang bersi – bersin.
4.     Sakit tenggorokan.
5.     Sakit kepala.
6.     Batuk
7.     Skret menjadi kental.
8.     Demam.
9.     Neusea.
10. Anoreksia
11. Muntah

E.  Komplikasi
ISPA ( saluran pernafasan akut sebenarnya merupakan self limited disease yang sembuh sendiri dalam 5 – 6 hari jika tidak terjadi invasi kuman lain, tetapi penyakit ISPA yang tidak mendapatkan pengobatan dan perawatan yang baik dapat menimbulkan penyakit seperti : semusitis paranosal, penutuban tuba eustachii, lanyingitis, tracheitis, bronchtis, dan brhonco pneumonia dan berlanjut pada kematian karena danya sepsis yang meluas.

F.  Penatalaksanaan
penatalaksanaan dari ISPA  adalah
1.     Medis.
a.     Diet cair dan lunak selama tahap akut.
b.     Untuk mengontrol infeksi, memulihkan kondisi mukos yang antiboitik, misal amoxilin, ampixilin.
c.      Antistetik topikal sepertilidokain, orabase atau diklorin memberikan tindakan peredaan nyeri oral.
2.     Keperawatan.
a.     Penyuluhan pada pasien tentang cara memutus infeksi.
b.     Meningkatkan masukan cairan.
c.      Menginstruksikan pada pasien untuk meningkatkan drainase seperti antalasi uap.

II.  Konsep Keperawatan
A.          Pengkajian
·     Riwayat kesehatan:
ü Keluhan utama (demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan)
ü Riwayat penyakit sekarang (kondisi klien saat diperiksa)
ü Riwayat penyakit dahulu (apakah klien pernah mengalami penyakit seperti yang dialaminya sekarang)
ü Riwayat penyakit keluarga (adakah anggota keluarga yang pernah mengalami sakit seperti penyakit klien)
ü  Riwayat sosial (lingkungan tempat tinggal klien)
·     Pemeriksaan fisik  difokuskan pada pengkajian sistem pernafasan
a.   Inspeksi
>Membran mukosa hidung-faring tampak kemerahan
> Tonsil tampak kemerahan dan edema
              > Tampak batuk tidak produktif
> Tidak ada jaringan parut pada leher
                > Tidak tampak penggunaan otot-otot pernafasan tambahan, pernafasan cuping hidung.
b.  Palpasi
>Adanya demam
               >Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher/nyeri tekan pada nodus limfe servikalis
>Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid

c.   Perkusi
>Suara paru normal
d.   Auskultasi
    >Suara nafas vesikuler/tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru

B.          Diagnosa Keperawatan
1.  Peningkatan suhu tubuh b.d proses infeksi
Ø Tujuan  : suhu tubuh normal berkisar antara 36 – 37,5 °C
Ø Intervensi:
a.    Observasi tanda-tanda vital
b.    Anjurkan klien/keluarga untuk kompres pada kepala/aksila
c.     Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan dapat menyerap keringat seperti pakaian dari bahan katun.
d.    Atur sirkulasi udara
e.    Anjurkan klien untuk minum banyak ± 2000 – 2500 ml/hari
f.      Anjurkan klien istirahat di tempat tidur selama fase febris penyakit.
g.    Kolaborasi dengan dokter:
-      Dalam pemberian terapi, obat antimikrobial
-      Antipiretika
Ø Rasionalisasi:
a.    Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan perkembangan perawatan selanjutnya
b.    Dengan memberikan kompres, maka akan terjadi proses konduksi/perpindahan panas dengan bahan perantara.
c.    Proses hilanganya panas akan terhalangi untuk pakaian yang tebal dan tidak akan menyerap keringat.
d.    Penyediaan udara bersih
e.    Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat
f.      Tirah baring untuk mengurangi metabolisme dan panas
g.    Untuk mengontrol infeksi pernafasan dan menurunkan panas




2. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia
Ø Tujuan:
ü Klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah pada BB normal.
ü Klien dapat menoleransi diet yang dianjurkan
ü Tidak menunjukkan tanda malnutrisi
Ø Intervensi:
a.    Kaji kebiasaan diet, input-output dan timbang BB setiap hari.
b.    Berikan makan porsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat.
c.     Tingkatkan tirah baring
d.    Kolaborasi: konsultasi ke ahli gizi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien
Ø Rasionalisasi:
a.   Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan BB dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.
b.  Untuk menjamin nutrisi adekuat/meningkatkan kalori total
c.   Nafsu makan dapat dirangsang pada situasi rileks, bersih, dan menyenangkan.
d.  Untuk mengurangi kebutuhan metabolik
e.   Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal.

3. Nyeri akut b.d inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil
Ø Tujuan: nyeri berkurang/terkontrol
Ø Intervensi:
a.    Teliti keluhan nyeri, catat intensitasnya (dengan skala 0 – 10 ), faktor yang memperburuk atau meredakan nyeri, lokasi, lama, dan karakteristiknya.
b.    Anjurkan klien untuk menghindari alergen/iritan terhadap debu, bahan kimia, asap rokkok, dan mengistirahatkan atau meminimalkan bicara bila suara serak.
c.     Anjurkan untuk melakukan kumur air hangat
d.    Kolaborasi:
 Berikan obat sesuai indikasi (steroid oral, IV, dan inhalasi, & analgesik)

Ø Rasionalisasi:
a.   Identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok dan untuk mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan.
b.  Mengurangi bertambah beratnya penyakit
c.   Peningkatan sirkulasi pada daerah tenggorokan serta mengurangi nyeri tenggorokan.
d.  Kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi alergi/menghambat pengeluaran histamin dalam inflamasi pernafasan. Analgesik untuk mengurangi nyeri.

4.  Risiko tinggi penularan infeksi b.d tidak kuatnya pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun)
Ø Tujuan: tidak terjadi penularan, tidak terjadi komplikasi
Ø Intervensi:
a.    Batasi pengunjung sesuai indikasi
b.    Jaga keseimbangan antara istirahat dan aktivitas
c.     Tutup mulut dan hidung jika hendak bersin
d.    Tingkatkan daya tahan tubuh, terutama anak dibawah usia 2 tahun, lansia, dan penderita penyakit kronis. Konsumsi vitamin C, A dan mineral seng atau anti oksidan.
e.    Kolaborasi pemberian obat sesuai hasil kultur
Ø Rasionalisasi:
a.    Menurunkan potensi terpajan pada penyakit infeksius
b.    Menurunkan konsumsi atau kebutuhan keseimbangan O dan memperbaiki pertahanan klien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan.
c.     Mencegah penyebaran patogen melalui cairan
d.    Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi.
e.    Dapat diberikan untuk organisme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitifitas atau diberikan secara profilaktik karena risiko tinggi.



Tidak ada komentar: