Minggu, 22 Januari 2012

ASUHAN KEPERAWATAN KARSINOMA NASOFARING


I.            Konsep Medis
1.       Pengertian
Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146).
2.       Anatomi Nasofaring
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjOypV2KfLc8XITvWFLy_WuuVne3uIA26DoecPqDag1xlh2ecbyehsVIa9Si_rDeZk74-fM9tGWsuAfQTvngptjnDr7kS_zh1P0YFVsjlmnP3Gqdfk7ZBez5Yrn1a9T_pyW6td-s8ztGOpg/s400/Picture1.jpg
Nasofaring letaknya tertinggi di antara bagian-bagian lain dari faring, tepatnya di sebelah do sal dari cavum nasi dan dihubungkan dengan cavum nasi oleh koane. Nasofaring tidak bergerak, berfungsi dalam proses pernafasan dan ikut menentukan kualitas suara yang dihasilkan oleh laring. Nasofaring merupakan rongga yang mempunyai batas-batas sebagai berikut :
Atas                                         : Basis kranii.  
Bawah                                                 : Palatum mole
Belakang                                 : Vertebra servikalis
Depan                                      : Koane
Lateral                                    :Ostium tubae Eustachii, torus tubarius, fossa     rosenmuler (resesus faringeus).
Atap & dinding belakang        :adenoid atau tonsila faringika.



3.      Epidemiologi dan Etiologi
Urutan tertinggi penderita karsinoma nasofaring adalah suku mongoloid yaitu 2500 kasus baru pertahun. Diduga disebabkan karena mereka memakan makanan yang diawetkan dalam musim dingin dengan menggunakan bahan pengawet nitrosamin. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146).
sInsidens karsinoma nasofaring yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan makan, lingkungan dan virus Epstein-Barr (Sjamsuhidajat, 1997 hal 460). Selain itu faktor geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau parasit juga sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini. Tetapi sudah hampir dapat dipastikan bahwa penyebab karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-barr, karena pada semua pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus EEB yang cukup tinggi (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146).
4.      Tanda dan Gejala
1)      Gejala Hidung :
·         Epistaksis : rapuhnya mukosa hidung sehingga mudah terjadi perdarahan.
·         Sumbatan hidung. Sumbatan menetap karena pertumbuhan tumor kedalam rongga nasofaring dan menutupi koana, gejalanya : pilek kronis, ingus kental, gangguan penciuman.
2)      Gejala telinga
·         Kataralis/ oklusi tuba Eustachii : tumor mula-mula dofosa Rosen Muler, pertumbuhan tumor dapat menyebabkan penyumbatan muara tuba ( berdengung, rasa penuh, kadang gangguan pendengaran)
·         Otitis Media Serosa sampai perforasi dan gangguan pendengaran
3)      Gejala lanjut
·         Limfadenopati servikal : melalui pembuluh limfe, sel-sel kanker dapat mencapai kelenjar limfe dan bertahan disana. Dalam kelenjar ini sel tumbuh dan berkembang biak hingga kelenjar membesar dan tampak benjolan dileher bagian samping, lama kelamaan karena tidak dirasakan kelenjar akan berkembang dan melekat pada otot sehingga sulit digerakkan.

5.      Patofisiologi
Virus Epsteinn-barr adalah virus yang berperan penting dalam timbulnya kanker nasofaring. Virus yang hidup bebas di udara ini bisa masuk ke dalam tubuh dan tetap tinggal di nasofaring tanpa menimbulkan gejala, kanker nasofaring sebenarnya dipicu oleh zat nitrosamine yang ada dalam daging ikan asin. Zat ini mampu mengaktifkan virus Epsteinn-barr yang masuk ke dalam tubuh ikan asin, tetapi juga terdapat dalam makanan yang diawetkan seperti daging, sayuran dan difermentasi (asinan) serta tauco.
6.  Pemeriksaan Penunjang
a.      Nasofaringoskopi
b.      Untuk diagnosis pasti ditegakkan dengan biopsy nasofaring dapat dilakukan dua cara yaitu dari hidung dan mulut dilakukan dengan anastesi topical dengan xylocain 10%.
c.       Pemeriksaan CT-scan daerah kepala dan leher untuk mengetahui keberadaan tumor sehingga tumor primer yang tersembunyi pun akan ditemukan.
d.      Pemeriksaan serologi IgA anti EA dan IoA anti VGA untuk mengetahui infeksi virus E-B.
e.      Pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narcosis.
(Efiaty & Nurbaiti, 2001)
Untuk menegakkan diagnosa diperlukan pemeriksaan kelenjar getah bening (palpasi terasa membengkak), beberapa tanda dan gejala dari kanker ini memang tidak terlalu spesifik, pemeriksaan ini mungkin akan berlangsung selama beberapa bulan, jika dicurigai terjadinya kanker, dilakukan inspeksi menggunakan endoskop untuk melihat nasopharing yang abnormal tersebut dalam penggunaannya diperlukan anastesi lokal. Setelah itu, diambil biopsy (sampel) yang kemudian diuji apakah merupakan kanker.
Kemudian akan ditentukan stadium kanker itu dengan cara :
           MRI (membantu melihat kanker yang menyebar di sekitar kepala)
           Pengambilan biopsy ini digunakan untuk melihat kanker yang berada di kelenjar getah bening.
            Sinar X (melihat kanker yang menyebar di bagian paru-paru).

6.      Penatalaksanaan
a.      Radioterapi merupakan pengobatan utama
b.      Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa diseksi leher ( benjolan di leher yang tidak menghilang pada penyinaran atau timbul kembali setelah penyinaran dan tumor induknya sudah hilang yang terlebih dulu diperiksa dengan radiologik dan serologik) , pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin dan antivirus.
c.       Pemberian ajuvan kemoterapi yaitu Cis-platinum, bleomycin dan 5-fluorouracil. Sedangkan kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cis-platinum. Kombinasi kemo-radioterapi dengan mitomycin C dan 5-fluorouracil oral sebelum diberikan radiasi yang bersifat “RADIOSENSITIZER”.
  1. Landasan Teoritis Asuhan Keperawatan
A.     Pengkajian
1.      Identitas Klien
Kaji identitas klien, nama, umur, jenis kelamin, pekerjaan, agama, tanggal masuk rumah sakit, diagnosa medis tentang penyakit yang diderita serta alamat klien.
2.      Riwayat Kesehatan
a.      Keluhan Utama
Terdapatnya benjolan berupa tumor ganas daerah kepala dan leher.
b.      Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien sering mengalami pembengkakan atau benjolan pada leher berupa tumor ganas yang terasa nyeri dan sulit untuk digerakkan.
c.       Riwayat Kesehatan Dahulu
Kaji riwayat kesehatan yang dapat memperparah penyakit seperti lingkungan yang berpengaruh seperti iritasi bahan kimia, asap sejenis kayu tertentu. Kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu dan kebiasaan makan makanan yang terlalu panas serta makanan yang diawetkan ( daging dan ikan). Penyakit yang pernah di derita klien pada masa lalu.


d.      Riwayat Kesehatan Keluarga
Kaji riwayat penyakit keturunan, seperti faktor herediter atau riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau nenek dengan riwayat kanker.
3.      Pemeriksaan Fisik
·         Inspeksi : Wajah, mata, rongga mulut dan leher.
·         Pemeriksaan THT:
·         Otoskopi : Liang telinga, membran timpani.
·         Rinoskopia anterior :
-    Pada tumor endofilik tak jelas kelainan di rongga hidung, mungkin hanya banyak sekret.
-    Pada tumor eksofilik, tampak tumor di bagian belakang rongga hidung, tertutup sekret mukopurulen, fenomena palatum mole negatif.
·         Rinoskopia posterior :
-    Pada tumor indofilik tak terlihat masa, mukosa nasofaring tampak agak menonjol, tak rata dan paskularisasi meningkat.
-    Pada tumor eksofilik tampak masa kemerahan.
·         sFaringoskopi dan laringoskopi :
-    Kadang faring menyempit karena penebalan jaringan retrofaring; reflek muntah dapat menghilang.
·         X – foto : tengkorak lateral, dasar tengkorak, CT Scan
4.      Pengkajian Fungsional Gordon
1)      Pola Persepsi Kesehatan manajemen Kesehatan
Tanyakan pada klien bagaimana pandangannya tentang penyakit yang dideritanya dan pentingnya kesehatan bagi klien? Biasanya klien yang datang ke rumah sakit sudah mengalami gejala pada stadium lanjut, klien biasanya kurang mengetahui penyebab terjadinya serta penanganannya dengan cepat.
2)      Pola Nutrisi Metabolic
Kaji kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahan pengawet), anoreksia, mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan, perubahan berat badan, perubahan kelembaban/turgor kulit. Biasanya klien akan mengalami penurunan berat badan akibat inflamasi penyakit dan proses pengobatan kanker.
3)      Pola Eliminasi
Kaji bagaimana pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan bising usus, distensi abdomen. Biasanya klien tidak mengalami gangguan eliminasi.
4)      Pola aktivas latihan
Kaji bagaimana klien menjalani aktivitas sehari-hari. Biasanya klien mengalami kelemahan atau keletihan akibat inflamasi penyakit.
5)      Pola istirahat tidur
Kaji perubahan pola tidur klien selama sehat dan sakit, berapa lama klien tidur dalam sehari? Biasanya klien mengalami perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.
6)      Pola kognitif persepsi
Kaji tingkat kesadaran klien, apakah klien mengalami gangguan penglihatan,pendengaran, perabaan, penciuman,perabaan dan kaji bagaimana klien dalam berkomunikasi? Biasanya klien mengalami gangguan pada indra penciuman.
7)      Pola persepsi diri dan konsep diri
Kaji bagaimana klien memandang dirinya dengan penyakit yang dideritanya? Apakah klien merasa rendah diri? Biasanya klien akan merasa sedih dan rendah diri karena penyakit yang dideritanya.
8)      Pola peran hubungan
Kaji bagaimana peran fungsi klien dalam keluarga sebelum dan selama dirawat di Rumah Sakit? Dan bagaimana hubungan social klien dengan masyarakat sekitarnya? Biasanya klien lebih sering tidak mau berinteraksi dengan orang lain.



9)      Pola reproduksi dan seksualitas
Kaji apakah ada masalah hubungan dengan pasangan? Apakah ada perubahan kepuasan pada klien?. Biasanya klien akan mengalami gangguan pada hubungan dengan pasangan karena sakit yang diderita.
10)  Pola koping dan toleransi stress
Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah? Apakah klien menggunakan obat-obatan untuk menghilangkan stres?. Biasanya klien akan sering bertanya tentang pengobatan.
11)  Pola nilai dan kepercayaan
Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi penyakitnya? Apakah ada pantangan agama dalam proses penyembuhan klien? Biasanya klien lebih mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Kuasa
[KDM.JPG]

B.      Diagnosa dan intervensi keperawatan
1.      Nyeri berhubungan dengan kompresi/destruksi karingan saraf
·         Tujuan: rasa nyeri teratasi atau terkontrol
·        Kriteria hasil:
v  Klien melaporkan nyeri teratasi
v  mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi nyeri
v  ekspresi wajah ceria
v  ttv dalam batas normal
·         intervensi:
v  kaji riwayat nyeri
v  berikan posisi nyaman
v  ajarkan tekhnik manajemen nyeri (relaksasi, bimbingan imajinasi, visualisasi, musik, sentuhan terapeutik)
v  kolaborasi pemberian anlgetik sesuai indikasi
2.      gangguan sensori persepsi berhubungan dengan gangguan status organ sekunder metastase tumor
·         tujuan: mampu beradaptasi terhadap perubahan sensori persepsi
·         kriteria hasil:
v  mengenal gangguan dan berkompensasi terhadap perubahan
·         intervensi:
v  tentukan ketajaman penglihatan , apakah satu atau dua mata terlibat
v  orientasikan pasien terhadap lingkungan
v  observasi tanda-tanda dan gejala disorientasi
v  perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur
v  bicara dengan gerak mulut yang jelas
v  bicara pada sisi telinga yang sehat
3.         nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual muntah sekunder kemoterapi radiasi
·         Tujuan: kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
·         Kriteria hasil:
v  Melaporkan penuurunan mual dan insiden muntah
v  Mengkonsumsi makan dan cairan yang adekuat
v  Menunjukkan turgor kulit normal dan membran mukosa yang lembab
v  Melaporkan tidak adanya penurunan berat badan tambahan
·         Intervensi:
v   Sesuaikan diet  sebelum dan sesudah pemberian obat sesuai dengan kesukaan dan tolrransi pasien
v  Berikan dorongan higiene oral yang sering
v  Berikan antiemetik, sedatif dan kortikosteroid yang diresepkan
v  Pastikan hidrasi cairan yang adekuat sebelum, selama dan setelah pemberian obat, kaji msukan dan haluaran
v  Pantau masukan makanan tiap hari
v  Ukur TB, BB dan ketebalan kulit trisep (pengukuran antropometri)
v  Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori, kaya nutrien dengan masukan cairan adekuat
v  Kontrol faktor lingkungan (bau dan pandangan yang tidak sedap dan kebisingan)
4.         Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder imunosupresi
·         Tujuan: tidak terjadi infeksi