I.
Konsep Medis
A. Defenisi
Kanker
paru merupakan keganasan pada jaringan paru (Price, 1994).
Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel – sel yang mengalami proliferasi
dalam paru (Underwood,
1999).
B.
Etiologi
Penyabab
kanker paru (Price, 1994) yaitu :
1.
Merokok
2.
Merokok Pasif
3.
Radon Gas
4.
Kecenderungan Keluarga
5.
Penyakit-Penyakit Paru
6.
Sejarah Kanker Paru
sebelumnya
7.
Polusi Udara
8.
Kekurangan Vitamin A dan
C
C.
Patofisiologi
Sebab-sebab
keganasan pada tumor masih belum jelas, tetapi virus, faktor lingkungan, faktor
hormonal dan faktor genetik semuanya berkaitan dengan risiko terjadi tumor.
Permulaan terjadinya tumor dimulai dengan adanya zat yang bersifat initiation
yang merangsang permulaan terjadinya perubahan sel. Diperlukan perangsangan
yang lama dan berkesinambungan untuk memici timbulnya penyakit tumor.
D. Manifestasi
klinis
Tanda dan gejala penyakit kanker paru (Underwood, 1999) yaitu :
1. Gejala
awal. Stridor lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi
pada bronkus.
2.
Gejala umum.
a.
Batuk : Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan
oleh massa tumor. Batuk mulai sebagai batuk kering tanpa membentuk
sputum,
b. Hemoptisis
: Sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor yang
mengalami ulserasi.
c. Anoreksia,
lelah, berkurangnya berat badan.
E. Pemeriksaan diagnostik
1. Radiologi. (Price, 1994)
1.
Foto thorax posterior – anterior
(PA) dan leteral serta Tomografi dada.
Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat
mendeteksi adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi.
Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus, effuse pleural, atelektasis
erosi tulang rusuk atau vertebra.
2.
Bronkhografi.Untuk melihat tumor
di percabangan bronkus.
2. Laboratorium.
a. Sitologi
(sputum, pleural, atau nodus limfe).
F. Penatalaksanaan
Menunjang pengobatan kuratif, paliatif dan terminal
sepertia pemberian nutrisi, tranfusi darah dan komponen darah, obat anti
nyeri dan anti infeksi. (Soeparman, 1998)
Ø
Pembedahan.
Tujuan pada pembedahan kanker
paru sama seperti penyakit paru lain, untuk mengankat semua jaringan yang sakit
sementara mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru –paru yang tidak terkena
kanker.
1.
Toraktomi eksplorasi.
Untuk mengkomfirmasi diagnosa
tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma, untuk melakukan
biopsy.
2.
Pneumonektomi pengangkatan paru.
Karsinoma bronkogenik bilaman
dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat.
3.
Lobektomi (pengangkatan lobus paru).
Karsinoma bronkogenik yang
terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula emfisematosa; abses
paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.
4.
Resesi segmental.
Merupakan pengankatan satau atau
lebih segmen paru.
5.
Resesi baji.
Tumor jinak dengan batas tegas,
tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang terlokalisir. Dekortikasi.
Merupakan pengangkatan bahan –
bahan fibrin dari pleura viscelaris)
Ø
Radiasi
Pada beberapa kasus, radioterapi
dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai terapi adjuvant/
paliatif pada tumor dengan komplikasi,
Kemoterafi.
Kemoterapi digunakan untuk
mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien dengan tumor paru sel
kecil atau dengan metastasi luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi
radiasi.
II.
Konsep Keperawatan
A.
Pengkajian
1.
Preoperasi (Doenges, 1999)
a.
Aktivitas/ istirahat.
§ Gejala :
Kelemahan, ketidakmampuan mempertahankan kebiasaan rutin,
§ Tanda : Kelesuan( biasanya tahap lanjut).
b.
Sirkulasi.
§ Gejala : (obstruksi
vana kava).Bunyi jantung : gesekan pericardial (menunjukkan efusi).Takikardi/
disritmia.Jari tabuh.
c.
Integritas ego.
§ Gejala :
Perasaan taku. Takut hasil pembedahanMenolak kondisi yang berat
§ Tanda :
Kegelisahan, insomnia, pertanyaan yang diulang – ulang.
d.
Eliminasi.
§ Gejala :
Diare yang hilang timbul (karsinoma sel kecil).Peningkatan frekuensi/ jumlah
urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor epidermoid)
e.
Makanan/ cairan.
§ Gejala :
Penurunan berat badan, nafsu makan buruk, penurunan masukanmakanan.Kesulitan
menelanHaus/ peningkatan masukan cairan.
§ Tanda :
Kurus, atau penampilan kurang berbobot (tahap lanjut)Edema wajah/ leher, dada
punggung (obstruksi vena kava), edema wajah/ periorbital (ketidakseimbangan
hormonal, karsinoma sel kecil)Glukosa dalam urine (ketidakseimbangan hormonal,
tumor epidermoid).
f.
Nyeri/ kenyamanan.
§ Gejala :
Nyeri dada (tidak biasanya ada pada tahap dini dan tidak selalu pada tahap
lanjut) dimana dapat/ tidak dapat dipengaruhi oleh perubahan posisi.Nyeri bahu/
tangan (khususnya pada sel besar atau adenokarsinoma)Nyeri abdomen hilang
timbul.
g.
Pernafasan.
§ Gejala :
Batuk ringan atau perubahan pola batuk dari biasanya dan atauproduksi
sputum.Nafas pendekPekerja yang terpajan polutan, debu industriSerak, paralysis
pita suara.Riwayat merokok
§ Tanda :
Dispnea, meningkat dengan kerjaPeningkatan fremitus taktil (menunjukkan
konsolidasi)Krekels/ mengi pada inspirasi atau ekspirasi (gangguan aliran
udara), krekels/ mengi menetap; pentimpangan trakea ( area yang mengalami
lesi).Hemoptisis.
h.
Keamanan.
§ Tanda :
Demam mungkin ada (sel besar atau karsinoma)Kemerahan, kulit pucat
(ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)
i.
Seksualitas.
§ Tanda :
Ginekomastia (perubahan hormone neoplastik, karsinoma selbesar)Amenorea/
impotent (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)
j.
Penyuluhan.
§ Gejala :
Faktor resiko keluarga, kanker(khususnya paru), tuberculosisKegagalan untuk
membaik.
2.
Pascaoperasi (Doenges, 1999)
v Karakteristik
dan kedalaman pernafasan dan warna kulit pasien
v Frekuensi
dan irama jantung.
v Pemeriksaan
laboratorium yang terkait (GDA. Elektolit serum, Hb dan Ht).
v Pemantauan
tekanan vena sentral.
v Status
nutrisi.
v Status
mobilisasi ekstremitas khususnya ekstremitas atas di sisi yang di operasi.
v Kondisi
dan karakteristik water seal drainase.
a.
Aktivitas atau istirahat.
§ Gejala :
Perubahan aktivitas, frekuensi tidur berkurang.
b.
Sirkulasi.
§ Tanda :
denyut nadi cepat, tekanan darah tinggi.3). Eliminasi.
§ Gejala :
menurunnya frekuensi eliminasi BABTanda : Kateter urinarius terpasang/ tidak,
karakteristik urineBisng usus, samara atau jelas.
c.
Makanan dan cairan.
§ Gejala :
Mual atau muntah
d.
Neurosensori.
§ Gejala :
Gangguan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anastesi.
e.
Nyeri dan ketidaknyamanan.
§ Gejala :
Keluhan nyeri, karakteristik nyeriNyeri, ketidaknyamanan dari berbagai sumber
misalnya insisiAtau efek – efek anastesi.
B.
Diagnosa
dan Intervensi Keperawatan
1.
Preoperasi (Doenges, 1999)
a.
Kerusakan pertukaran gas
Ø Dapat
dihubungkan :
ü Hipoventilasi.
Ø Kriteria
hasil :
ü Menunjukkan
perbaikan ventilasi dan oksigenisi adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan
bebas gejala distress pernafasan.
ü Berpartisipasi
dalam program pengobatan, dalam kemampuan/ situasi.Intervensi
Ø Intervensi
:
1.
Kaji status pernafasan dengan sering, catat
peningkatan frekuensi atau upaya pernafasan atau perubahan pola nafas.
Rasional : Dispnea merupakan mekanisme kompensasi
adanya tahanan jalan nafas.
2.
Catat ada atau tidak adanya bunyi tambahan dan
adanya bunyi tambahan, misalnya krekels, mengi.
Rasional : Bunyi nafas dapat menurun, tidak sama
atau tak ada pada area yang sakit.Krekels adalah bukti peningkatan cairan dalam
area jaringan sebagai akibat peningkatan permeabilitas membrane
alveolar-kapiler.
3.
Kolaborasi pemberian oksigen lembab sesuai indikasi
Rasional : Memaksimalkan sediaan oksigen untuk
pertukaran.
4.
Awasi atau gambarkan seri GDA.
Rasional : Menunjukkan ventilasi atau oksigenasi.
Digunakan sebagai dasar evaluasi keefktifan terapi atau indikator kebutuhan
perubahan terapi.
b.
Bersihan jalan nafas tidak efektif. Dapat
dihubungkan :
· Kehilangan
fungsi silia jalan nafas
· Peningkatan
jumlah/ viskositas sekret paru.
· Meningkatnya
tahanan jalan nafas
Ø Kriteria
hasil :
ü Menyatakan/
menunjukkan hilangnya dispnea.
ü Mempertahankan
jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih
ü Mengeluarkan
sekret tanpa kesulitan.
Ø Intervensi
:
1.
Catat perubahan upaya dan pola bernafas.
Rasional : Penggunaan otot interkostal/ abdominal
dan pelebaran nasal menunjukkan peningkatan upaya bernafas.
2.
Observasi penurunan ekspensi dinding dada dan
adanya.
Rasional : Ekspansi dad terbatas atau tidak sama
sehubungan dengan akumulasi cairan, edema, dan sekret dalam seksi lobus.
3.
Catat karakteristik batuk (misalnya, menetap,
efektif, tak efektif), juga produksi dan karakteristik sputum.
Rasional : Karakteristik batuk dapat berubah
tergantung pada penyebab/ etiologi gagal perbafasan. Sputum bila ada mungkin
banyak, kental, berdarah, adan/ atau puulen.
4.
Pertahankan posisi tubuh/ kepala tepat dan gunakan
alat jalan nafas sesuai kebutuhan.
Rasional : Memudahkan memelihara jalan nafas atas
paten bila jalan nafas pasein dipengaruhi.
5.
Kolaborasi pemberian bronkodilator, contoh
aminofilin, albuterol Awasi efek samping merugikan dari obat, contoh takikardi,
hipertensi, tremor, insomnia.
Rasional : Obat diberikan untuk menghilangkan
spasme bronkus, menurunkan viskositas sekret, memperbaiki ventilasi, dan
memudahkan pembuangan sekret.
c.
Ketakutan/Anxietas.Dapat
dihubungkan :
· Krisis situasi
· Ancaman untuk/ perubahan status kesehatan, takut mati.
· Faktor psikologis.
Ø Kriteria hasil :
ü Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat
untuk mengatasinya.
ü Mengakui dan mendiskusikan takut.
ü Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai
tingkat dapat diatangani.
ü Menunjukkan pemecahan masalah dan pengunaan sumber
efektif.
Ø Intervensi :
1.
Observasi
peningkatan gelisah, emosi labil.
Rasional : Memburuknya penyakit dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas.
Rasional : Memburuknya penyakit dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas.
2.
Pertahankan
lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan.
Rasional : Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energi.
Rasional : Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energi.
3.
Tunjukkan/
Bantu dengan teknik relaksasi, meditasi, bimbingan imajinasi.
Rasional : Memberikan kesempatan untuk pasien menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol.
Rasional : Memberikan kesempatan untuk pasien menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol.
4.
Identifikasi
perspsi klien terhadap ancaman yang ada oleh situasi.
Rasional : Membantu pengenalan ansietas/ takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk individu.
Rasional : Membantu pengenalan ansietas/ takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk individu.
5.
Dorong
pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan.
Rasional : Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi.
Rasional : Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi.
d.
Kurang
pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.
Dapat dihubungkan :
Dapat dihubungkan :
·
Kurang
informasi.
·
Kesalahan
interpretasi informasi.
·
Kurang
mengingat.
Ø Kriteria hasil :
ü Menjelaskan hubungan antara proses penyakit dan
terapi.
ü Menggambarkan/ menyatakan diet, obat, dan program aktivitas.
ü Mengidentifikasi dengan benar tanda dan gejala yang
memerlukan perhatian medik.
ü Membuat perencanaan untuk perawatan lanjut.
Ø Intervensi :
1. Dorong belajar untuk memenuhi kebutuhan pasien. Beriak
informasi dalam cara yang jelas/ ringkas.
Rasional : Sembuh dari gangguan gagal paru dapat sangat menghambat lingkup perhatian pasien, konsentrasi dan energi untuk penerimaan informasi/ tugas baru.
Rasional : Sembuh dari gangguan gagal paru dapat sangat menghambat lingkup perhatian pasien, konsentrasi dan energi untuk penerimaan informasi/ tugas baru.
2.
Berikan
informasi verbal dan tertulis tentang obat
Rasional : Pemberian instruksi penggunaan obat yang aman memmampukan pasien untuk mengikuti dengan tepat program pengobatan.
Rasional : Pemberian instruksi penggunaan obat yang aman memmampukan pasien untuk mengikuti dengan tepat program pengobatan.
3.
Kaji
konseling nutrisi tentang rencana makan; kebutuhan makanan kalori tinggi.
Rasional : Pasien dengan masalah pernafasan berat biasanya mengalami penurunan berat badan dan anoreksia sehingga memerlukan peningkatan nutrisi untuk menyembuhan.
Rasional : Pasien dengan masalah pernafasan berat biasanya mengalami penurunan berat badan dan anoreksia sehingga memerlukan peningkatan nutrisi untuk menyembuhan.
4.
Berikan
pedoman untuk aktivitas.
Rasional : Pasien harus
menghindari untuk terlalu lelah dan mengimbangi periode istirahatdan aktivitas
untuk meningkatkan regangan/ stamina dan mencegah konsumsi/ kebutuhan oksigen
berlebihan.
2. Pascaoperasi (Doenges, 1999)
a. Kerusakan pertukaran gas.
Ø Dapat dihubungkan :
ü Pengangkatan jaringan paru
ü Gangguan suplai oksigen
ü Penurunan kapasitas pembawa oksigen darah (kehilangan
darah).
Ø Kriteria hasil :
ü Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi
jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal.
ü Bebas gejala distress pernafasan.
Ø Intervensi :
1.
Catat
frekuensi, kedalaman dan kemudahan pernafasan. Observasi penggunaan otot bantu,
nafas bibir, perubahan kulit/ membran mukosa.
Rasional : Pernafasan
meningkat sebagai akibat nyeri atau sebagai mekanisme kompensasi awal terhadap
hilangnya jaringan paru.
2.
Auskultasi
paru untuk gerakamn udara dan bunyi nafas tak normal.
Rasional : Konsolidasi dan
kurangnya gerakan udara pada sisi yang dioperasi normal pada pasien
pneumonoktomi. Namun, pasien lubektomi harus menunjukkan aliran udara normal
pada lobus yang masih ada.
3.
Pertahankan
kepatenan jalan nafas pasien dengan memberikan posisi, penghisapan, dan
penggunaan alat
Rasional : Obstruksi jalan nafas mempengaruhi ventilasi, menggangu pertukaran gas.
Rasional : Obstruksi jalan nafas mempengaruhi ventilasi, menggangu pertukaran gas.
4.
Ubah
posisi dengan sering, letakkan pasien pada posisi duduk juga telentang sampai
posisi miring.
Rasional : Memaksimalkan
ekspansi paru dan drainase sekret.
5.
Dorong/
bantu dengan latihan nafas dalam dan nafas bibir dengan tepat.
Rasional : Meningkatkan
ventilasi maksimal dan oksigenasi dan menurunkan/ mencegah atelektasis.
b. Bersihan jalan nafas tidak efektif
Ø Dapat dihubungkan :
ü Peningkatan jumlah/ viskositas sekret
ü Keterbatasan gerakan dada/ nyeri.
ü Kelemahan/ kelelahan.
Ø Kriteria hasil :
ü Menunjukkan patensi jalan nafas, dengan cairan sekret
mudah dikeluarkan, bunyi nafas jelas, dan pernafasan tak bising.
Ø Intervensi :
1.
Auskultasi
dada untuk karakteristik bunyi nafas dan adanya sekret.
Rasional : Pernafasan
bising, ronki, dan mengi menunjukkan tertahannya sekret dan/ atau obstruiksi
jalan nafas.
2.
Bantu
pasien dengan/ instruksikan untuk nafas dalam efektif dan batuk dengan posisi
duduk tinggi dan menekan daerah insisi.
Rasional : Posisi duduk
memungkinkan ekspansi paru maksimal dan penekanan menmguatkan upaya batuk untuk
memobilisasi dan membuang sekret. Penekanan dilakukan oleh perawat.
3.
Observasi
jumlah dan karakter sputum/ aspirasi sekret.
Rasional : Peningkatan jumlah sekret tak berwarna / berair awalnya normal dan harus menurun sesuai kemajuan penyembuhan.
Rasional : Peningkatan jumlah sekret tak berwarna / berair awalnya normal dan harus menurun sesuai kemajuan penyembuhan.
4.
Dorong
masukan cairan per oral (sedikitnya 2500 ml/hari) dalam toleransi jantung.
Rasional : Hidrasi adekuat
untuk mempertahankan sekret hilang/ peningkatan pengeluaran.
5.
Kolaborasi
pemberian bronkodilator, ekspektoran, dan/ atau analgetik sesuai indikasi.
Rasional : Menghilangkan
spasme bronkus untuk memperbaiki aliran udara, mengencerkan dan menurunkan viskositas
sekret.
c. Nyeri (akut).
Ø Dapat dihubungkan :
ü Insisi bedah, trauma jaringan, dan gangguan saraf
internal.
ü Adanya selang dada.
ü Invasi kanker ke pleura, dinding dada
Ø Kriteria hasil :
ü Melaporkan neyri hilang/ terkontrol.
ü Tampak rileks dan tidur/ istirahat dengan baik.
ü Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/
dibutuhkan.
Ø Intervensi :
1.
Tanyakan
pasien tentang nyeri. Tentukan karakteristik nyeri. Buat rentang intensitas
pada skala 0 – 10.
Rasional : Membantu dalam
evaluasi gejala nyeri karena kanker. Penggunaan skala rentang membantu pasien
dalam mengkaji tingkat nyeri dan memberikan alat untuk evaluasi keefktifan
analgesic, meningkatkan control nyeri.
2.
Kaji
pernyataan verbal dan non-verbal nyeri pasien.
Rasional : Ketidaklsesuaian antar petunjuk verbal/ non verbal dapat memberikan petunjuk derajat nyeri, kebutuhan/ keefketifan intervensi.
Rasional : Ketidaklsesuaian antar petunjuk verbal/ non verbal dapat memberikan petunjuk derajat nyeri, kebutuhan/ keefketifan intervensi.
3.
Catat
kemungkinan penyebab nyeri patofisologi dan psikologi.
Rasional : Insisi posterolateral lebih tidak nyaman untuk pasien dari pada insisi anterolateral. Selain itu takut, distress, ansietas dan kehilangan sesuai diagnosa kanker dapat mengganggu kemampuan mengatasinya.
Rasional : Insisi posterolateral lebih tidak nyaman untuk pasien dari pada insisi anterolateral. Selain itu takut, distress, ansietas dan kehilangan sesuai diagnosa kanker dapat mengganggu kemampuan mengatasinya.
4.
Dorong
menyatakan perasaan tentang nyeri.
Rasional : Takut/ masalah
dapat meningkatkan tegangan otot dan menurunkan ambang persepsi nyeri.
5.
Berikan
tindakan kenyamanan. Dorong dan ajarkan penggunaan teknik relaksasi
Rasional : Meningkatkan
relaksasi dan pengalihan perhatian.
d. Anxietas.
Ø Dapat dihubungkan:
ü Krisis situasi
ü Ancaman/ perubahan status kesehatan
ü Adanya ancman kematian.
Ø Kriteria hasil :
ü Mengakui dan mendiskusikan takut/ masalah
ü Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan
wajah tampak rileks/ istirahat
ü Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.
Ø Intervensi :
1.
Evaluasi
tingkat pemahaman pasien/ orang terdekat tentang diagnosa.
Rasional : Pasien dan orang
terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi perubahan ada
gambaran diri dan pola hidup. Pemahaman persepsi ini melibatkan susunan tekanan
perawatan individu dan memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi
yang tepat.
2.
Akui rasa
takut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan
Rasional : Dukungan
memampukan pasien mulai membuka atau menerima kenyataan kanker dan
pengobatannya.
3.
Terima
penyangkalan pasien tetapi jangan dikuatkan.
Rasional : Bila
penyangkalan ekstrem atau ansiatas mempengaruhi kemajuan penyembuhan,
menghadapi isu pasien perlu dijelaskan dan emebuka cara penyelesaiannya.
4.
Berikan
kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Yakinkan bahwa pasien dan
pemberi perawatan mempunyai pemahaman yang sama.
Rasional : Membuat
kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/ salah interpretasi terhadap
informasi.
5.
Libatkan
pasien/ orang terdekat dalam perencanaan perawatan. Rasional : Dapat membantu
memperbaiki beberapa perasaan kontrol/ kemandirian pada pasien yang merasa tek
berdaya dalam menerima pengobatan dan diagnosa.
6.
Berikan
kenyamanan fiik pasien.
Rasional : Ini sulit untuk
menerima dengan isu emosi bila pengalaman ekstrem/ ketidaknyamanan fisik
menetap.
e. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.
Ø Dapat dihubungkan :
ü Kurang atau tidak mengenal informasi/ sumber
ü Salah interperatasi informasi.
ü Kurang mengingat
Ø Kriteria hasil :
§
Menyatakan
pemahaman seluk beluk diagnosa, program pengobatan.
§
Melakukan
dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan tindakan tersebut.
§
Berpartisipasi
dalam proses belajar.
§
Melakukan
perubahan pola hidup.
Ø Intervensi :
1.
Diskusikan
diagnosa, rencana/ terapi sasat ini dan hasil yang diharapkan.
Rasional : Memberikan
informasi khusus individu, membuat pengetahuan untuk belajar lanjut tentang
manajemen di rumah. Radiasi dan kemoterapi dapat menyertai intervensi bedah dan
informasi penting untuk memampukan pasien/ orang terdekat untuk membuat keputusan
berdasarkan informasi.
2.
Kuatkan
penjelasan ahli bedah tentang prosedur pembedahan dengan memberikan diagram
yang tepat. Rasional : Lamanya rehabilitasi dan prognosis tergantung pada tipe
pembedahan, kondisi preoperasi, dan lamanya/ derajat komplikasi.
3.
Diskusikan
perlunya perencanaan untuk mengevaluasi perawatan saat pulang.
Rasional : Pengkajian
evaluasi status pernafasan dan kesehatan umum penting sekali untuk meyakinkan
penyembuhan optimal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar