Selasa, 24 Juni 2014

formasi cpns 2014 di beberapa daerah

dapatkan soal cpns tahun sebelumnya dan kisi-kisi soal cpns tahun 2014 hanya di http://goo.gl/XGIc4Y

pendaftaran CPNS dipermudah thn 2014

Pengadaan tes CPNS tahun 2014 telah dipermudah oleh pemerintah dari segala aspek. Pengadaan yang dimaksud termasuk dari segala tahapan yang harus dilakukan oleh pelamar umum untuk bisa mendaftar dan menjadi pegawai pemerintah, ataupun pemerintah dan pihak yang akan mengusulkan serta memberikan data para pelamar umum kepada pemerintah pusat.

Hal pertama yang dipermudah oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi adalah pengajuan formasi yang dilakukan oleh setiap pemerintah daerah tidak harus bingung dan megeluarkan tenaga yan besar, karena usulan formasi bisa dilakukan secara online yaitu dengan adanya e-formasi. Yaitu dimana setiap pemda hanya perlu memberikan data dan usulan formasi untuk lembaga/instansi terkait dengan sistem elektronik. Ditanya apakah memberikan dampak yang positif? Tentu saja, karena selain bisa mengefektifkan waktu, pemerintah bisa mengurangi anggaran untuk perjalanan dinas dan tidak perlu sulit untuk bolak balik Jakarta memberikan usulan formasi.

Setelah formasi yang bisa disulkan secara online, pendaftaran CPNS untuk tahun ini dilakukan secara online. Pelamar tidak perlu pergi ke kantor pos untuk mengirimkan data dan dokumen yang diperlukan untuk proses seleksi administrasi. Perkembangan teknologi semakin canggih dan bisa memberikan manfaat yang besar. Apalagi syarat administrasi tidak serumit tahun-tahun sebelumnya. Tes CPNS 2014 tidak perlu melampirkan Surat Ketenagakerjaan dari Depnaker, Surat Sehat dari dokter atau SKCK dari kepolisian. Semakin mudah saja bukan? Tidak usah mengeluarkan uang untuk membuat surat pendukung seperti diatas, yang menurut sebagian orang hanya menghabiskan tenaga, waktu dan uang dan belum tentu bisa lulus tes CPNS.

Kemudahan lain yang diberikan oleh pemerintah adalah saat melakukan Tes Kompetensi Dasar. Jika pada tahun sebelumnya masih menggunakan sistem LJK, tahun ini dirubah yaitu dengan menggunakan sistem computer yang dinamakan Computer Assisted Test (CAT) CPNS. Dengan menggunakan sistem seperti ini, pelamar bisa langsung mendapatkan hasil secara langsung dan tidak membutuhkan waktuu yang lama. Selain itu, CAT CPNS bersifat transparan dan objektif sehingga pelamar yang memiliki kemampuan dan pengetahuan sesuai yang bisa menempati jabatan Aparatur Sipil Negara tersebut.

Teknologi yang canggih bisa bermanfaat dan menghasilkan sesuatu besar juga tergantung pada individu yang mengelola teknologi tesebut. Namun dengan adanya sistem seperti itu, rekrutmen bisa dilakukan dengan baik dan jujur tanpa ada bantuan dari pihak di belakang layar. Semuanya murni karena pengetahuan dan potensi yang dimiliki setiap calon pelamar. Pemerintah juga harus bisa memberikan usulan yang sesuai kepada pemerintah pusat dengan memerhatikan kebutuhan, anggaran, jumlah riil pegawai dan jumlah pegawai yang akan pensiun.

dapatkan kisi-kisi soa CPNS lanya di http://goo.gl/XGIc4Y

Sabtu, 21 Juni 2014

formasi CPNS 2014

Penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) yang mulai dibuka Juli nanti akan dilakukan di 482 instansi. Total 100.000 CPNS baru akan terbagi untuk pegawai negeri dan kontrak.

Kepala Biro Hukum, Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan dan RB) Herman Suryatman mengatakan, tahun ini ada 482 instansi pemerintah yang mendapat formasi dan akan membuka lowongan CPNS. Dia menyebutkan, untuk instansi pusat terdiri dari 31 kementerian dan 40 lembaga.

Sedangkan di pemerintah daerah terdiri dari 28 pemerintah provinsi dan 383 pemerintah kabupaten kota. “Penentuan formasi ini berdasarkan analisa jabatan dan beban kerja di masing-masing instansi,” katanya.

Herman menjelaskan, formasi aparatur sipil negara 2014 dibuka bagi 100.000 orang. Terdiri dari 65.000 CPNS dan 35.000 pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK). Menurut dia, untuk jenjang CPNS akan ada 25.000 formasi untuk instansi pemerintah pusat.

Sedangkan 40.000 formasi untuk pemerintah daerah. Sementara untuk PPPK terdiri dari 10.000 ribu untuk pemerintah pusat dan 25.000 untuk daerah.

Herman menjelaskan, panitia seleksi nasional (panselnas) telah menetapkan prioritas rekrutmen CPNS Untuk instansi pusat adalah jabatan fungsional tertentu yang menjadi jabatan utama di instansinya. Selain itu juga untuk jabatan fungsional lain sebagai penunjang jabatan utama.

Selain itu, juga diprioritaskan untuk jabatan fungsional umum atau jabatan pelaksana yang melaksanakan tugas teknis. “Jabatan khusus itu seperti instruktur, penyuluh ataupun teknisi kami prioritaskan,” ungkap Herman.

Dilanjutkannya, prioritas penerimaan CPNS di pemerintah daerah meliputi pelamar umum dengan prioritas jabatan di lingkungan dinas yang menunjang program pelaksanaan pembangunan sesuai potensi dan karakteristik daerahnya masing-masing.

Selain itu juga pelamar khusus dengan prioritas jabatan dokter pegawai tidak tetap (PTT) untuk penempatan pada sarana pelayanan kesehatan pemerintah di daerah terpencil, tertinggal, perbatasan dan kurang diminati.

Menurut rencana, terangnya, pendaftaran CPNS secara online dan terintegrasi (sistem single entry) akan dilakukan pada Juli. Sedangkan tes kompetensi dasar (TKD) dilaksanakan mulai Agustus 2014. Satu pelamar dapat memilih tiga jabatan dalam satu instansi.

“Saat pendaftaran tidak perlu menyertakan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK), Surat Keterangan Berbadan Sehat, dan Kartu Kuning dari Dinas Tenaga Kerja,” tambah Herman.

Diungkapkan, seperti tahun lalu materi TKD terdiri dari tiga kelompok soal. Kelompok pertama adalah wawasan kebangsaan, yang meliputi Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI. Sedangkan kelompok kedua adalah karakteristk pribadi, yakni integritas diri, semangat berprestasi, kreativitas dan inovasi dan orientasi pada pelayanan.

Adapun kelompok soal ketiga adalah inteligensia umum, yang meliputi kemampuan verbal, kemampuan numerik, kemampuan berpikir logis, kemampuan berpikir analitis.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, tahun ini pihaknya belum menerima formasi CPNS dari jalur umum dari Kemenpan dan RB sehingga belum ada penerimaan CPNS dari jalur umum. Meski demikian, pihaknya menjamin tidak akan ada masalah pada pelayanan publik.

Pasalnya, jumlah pegawai yang ada akan diefisienkan sesuai dengan tugas dan fungsi yang ada. “Kami tidak merasa kekurangan pegawai. Sesuai dengan prinsip reformasi birokrasi pegawai memang terbatas namun mereka tetap dapat melayani dengan baik,” terangnya.

dapatkan materi dan soal" CPNS dengan sistem CAT hanya di http://goo.gl/XGIc4Y

Kamis, 20 Februari 2014

ASKEP KANKER PARU




I.      Konsep Medis

A.  Defenisi
Kanker paru merupakan keganasan pada jaringan paru (Price, 1994). Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel – sel yang mengalami proliferasi dalam paru (Underwood, 1999).


B.   Etiologi
Penyabab kanker paru (Price, 1994) yaitu :
1.      Merokok
2.      Merokok Pasif
3.      Radon Gas
4.      Kecenderungan Keluarga
5.      Penyakit-Penyakit Paru
6.      Sejarah Kanker Paru sebelumnya
7.      Polusi Udara  
8.      Kekurangan Vitamin A dan C


C.   Patofisiologi
Sebab-sebab keganasan pada tumor masih belum jelas, tetapi virus, faktor lingkungan, faktor hormonal dan faktor genetik semuanya berkaitan dengan risiko terjadi tumor. Permulaan terjadinya tumor dimulai dengan adanya zat yang bersifat initiation yang merangsang permulaan terjadinya perubahan sel. Diperlukan perangsangan yang lama dan berkesinambungan untuk memici timbulnya penyakit tumor.

D.  Manifestasi klinis
Tanda dan gejala penyakit kanker paru (Underwood, 1999) yaitu :
1.      Gejala awal. Stridor lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi pada bronkus.
2.      Gejala umum.
a.      Batuk : Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor. Batuk   mulai sebagai batuk kering tanpa membentuk sputum,
b.      Hemoptisis : Sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor   yang mengalami ulserasi.
c.       Anoreksia, lelah, berkurangnya berat badan.

E.  Pemeriksaan diagnostik
1.   Radiologi. (Price, 1994)
1.      Foto thorax posterior – anterior (PA) dan leteral serta Tomografi dada.
Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.
2.      Bronkhografi.Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.
2.  Laboratorium.
a.       Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).


F.   Penatalaksanaan
Menunjang pengobatan kuratif, paliatif dan terminal sepertia pemberian nutrisi,  tranfusi darah dan komponen darah, obat anti nyeri dan anti infeksi. (Soeparman, 1998)
Ø  Pembedahan.
Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain, untuk mengankat semua jaringan yang sakit sementara mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru –paru yang tidak terkena kanker.
1.        Toraktomi eksplorasi.
Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsy.
2.        Pneumonektomi pengangkatan paru.
Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat.
3.        Lobektomi (pengangkatan lobus paru).
Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula emfisematosa; abses paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.
4.        Resesi segmental.
Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru.
5.        Resesi baji.
Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang terlokalisir. Dekortikasi.
Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris)
Ø Radiasi
Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai terapi adjuvant/ paliatif pada tumor dengan komplikasi,
Kemoterafi.
Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi radiasi.






II.   Konsep Keperawatan

A.    Pengkajian
1.    Preoperasi (Doenges, 1999)
a.    Aktivitas/ istirahat.
§  Gejala : Kelemahan, ketidakmampuan mempertahankan kebiasaan rutin,
§   Tanda : Kelesuan( biasanya tahap lanjut).
b.    Sirkulasi.
§  Gejala : (obstruksi vana kava).Bunyi jantung : gesekan pericardial (menunjukkan efusi).Takikardi/ disritmia.Jari tabuh.
c.     Integritas ego.
§  Gejala : Perasaan taku. Takut hasil pembedahanMenolak kondisi yang berat
§  Tanda : Kegelisahan, insomnia, pertanyaan yang diulang – ulang.
d.    Eliminasi.
§  Gejala : Diare yang hilang timbul (karsinoma sel kecil).Peningkatan frekuensi/ jumlah urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor epidermoid)
e.     Makanan/ cairan.
§  Gejala : Penurunan berat badan, nafsu makan buruk, penurunan masukanmakanan.Kesulitan menelanHaus/ peningkatan masukan cairan.
§  Tanda : Kurus, atau penampilan kurang berbobot (tahap lanjut)Edema wajah/ leher, dada punggung (obstruksi vena kava), edema wajah/ periorbital (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)Glukosa dalam urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor epidermoid).
f.     Nyeri/ kenyamanan.
§  Gejala : Nyeri dada (tidak biasanya ada pada tahap dini dan tidak selalu pada tahap lanjut) dimana dapat/ tidak dapat dipengaruhi oleh perubahan posisi.Nyeri bahu/ tangan (khususnya pada sel besar atau adenokarsinoma)Nyeri abdomen hilang timbul.
g.    Pernafasan.
§  Gejala : Batuk ringan atau perubahan pola batuk dari biasanya dan atauproduksi sputum.Nafas pendekPekerja yang terpajan polutan, debu industriSerak, paralysis pita suara.Riwayat merokok
§  Tanda : Dispnea, meningkat dengan kerjaPeningkatan fremitus taktil (menunjukkan konsolidasi)Krekels/ mengi pada inspirasi atau ekspirasi (gangguan aliran udara), krekels/ mengi menetap; pentimpangan trakea ( area yang mengalami lesi).Hemoptisis.
h.     Keamanan.
§  Tanda : Demam mungkin ada (sel besar atau karsinoma)Kemerahan, kulit pucat (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)
i.     Seksualitas.
§  Tanda : Ginekomastia (perubahan hormone neoplastik, karsinoma selbesar)Amenorea/ impotent (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)
j.      Penyuluhan.
§  Gejala : Faktor resiko keluarga, kanker(khususnya paru), tuberculosisKegagalan untuk membaik.

2.    Pascaoperasi (Doenges, 1999)
v Karakteristik dan kedalaman pernafasan dan warna kulit pasien
v Frekuensi dan irama jantung.
v Pemeriksaan laboratorium yang terkait (GDA. Elektolit serum, Hb dan Ht).
v Pemantauan tekanan vena sentral.
v Status nutrisi.
v Status mobilisasi ekstremitas khususnya ekstremitas atas di sisi yang di operasi.
v Kondisi dan karakteristik water seal drainase.
a.    Aktivitas atau istirahat.
§  Gejala : Perubahan aktivitas, frekuensi tidur berkurang.
b.    Sirkulasi.
§  Tanda : denyut nadi cepat, tekanan darah tinggi.3). Eliminasi.
§  Gejala : menurunnya frekuensi eliminasi BABTanda : Kateter urinarius terpasang/ tidak, karakteristik urineBisng usus, samara atau jelas.
c.     Makanan dan cairan.
§  Gejala : Mual atau muntah




d.    Neurosensori.
§  Gejala : Gangguan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anastesi.
e.     Nyeri dan ketidaknyamanan.
§  Gejala : Keluhan nyeri, karakteristik nyeriNyeri, ketidaknyamanan dari berbagai sumber misalnya insisiAtau efek – efek anastesi.

B.    Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
1.    Preoperasi (Doenges, 1999)
a.    Kerusakan pertukaran gas
Ø Dapat dihubungkan :
ü Hipoventilasi.
Ø Kriteria hasil :
ü Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisi adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan.
ü Berpartisipasi dalam program pengobatan, dalam kemampuan/ situasi.Intervensi
Ø Intervensi :
1.    Kaji status pernafasan dengan sering, catat peningkatan frekuensi atau upaya pernafasan atau perubahan pola nafas.
Rasional : Dispnea merupakan mekanisme kompensasi adanya tahanan jalan nafas.
2.    Catat ada atau tidak adanya bunyi tambahan dan adanya bunyi tambahan, misalnya krekels, mengi.
Rasional : Bunyi nafas dapat menurun, tidak sama atau tak ada pada area yang sakit.Krekels adalah bukti peningkatan cairan dalam area jaringan sebagai akibat peningkatan permeabilitas membrane alveolar-kapiler.
3.    Kolaborasi pemberian oksigen lembab sesuai indikasi
Rasional : Memaksimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran.
4.    Awasi atau gambarkan seri GDA.
Rasional : Menunjukkan ventilasi atau oksigenasi. Digunakan sebagai dasar evaluasi keefktifan terapi atau indikator kebutuhan perubahan terapi.

b.    Bersihan jalan nafas tidak efektif. Dapat dihubungkan :
·     Kehilangan fungsi silia jalan nafas
·     Peningkatan jumlah/ viskositas sekret paru.
·     Meningkatnya tahanan jalan nafas
Ø Kriteria hasil :
ü Menyatakan/ menunjukkan hilangnya dispnea.
ü Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih
ü Mengeluarkan sekret tanpa kesulitan.
Ø Intervensi :
1.    Catat perubahan upaya dan pola bernafas.
Rasional : Penggunaan otot interkostal/ abdominal dan pelebaran nasal menunjukkan peningkatan upaya bernafas.
2.    Observasi penurunan ekspensi dinding dada dan adanya.
Rasional : Ekspansi dad terbatas atau tidak sama sehubungan dengan akumulasi cairan, edema, dan sekret dalam seksi lobus.
3.    Catat karakteristik batuk (misalnya, menetap, efektif, tak efektif), juga produksi dan karakteristik sputum.
Rasional : Karakteristik batuk dapat berubah tergantung pada penyebab/ etiologi gagal perbafasan. Sputum bila ada mungkin banyak, kental, berdarah, adan/ atau puulen.
4.    Pertahankan posisi tubuh/ kepala tepat dan gunakan alat jalan nafas sesuai kebutuhan.
Rasional : Memudahkan memelihara jalan nafas atas paten bila jalan nafas pasein dipengaruhi.

5.    Kolaborasi pemberian bronkodilator, contoh aminofilin, albuterol Awasi efek samping merugikan dari obat, contoh takikardi, hipertensi, tremor, insomnia.
Rasional : Obat diberikan untuk menghilangkan spasme bronkus, menurunkan viskositas sekret, memperbaiki ventilasi, dan memudahkan pembuangan sekret.

c.     Ketakutan/Anxietas.Dapat dihubungkan :
·     Krisis situasi
·     Ancaman untuk/ perubahan status kesehatan, takut mati.
·     Faktor psikologis.
Ø Kriteria hasil :
ü Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat untuk mengatasinya.
ü Mengakui dan mendiskusikan takut.
ü Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatangani.
ü Menunjukkan pemecahan masalah dan pengunaan sumber efektif.
Ø Intervensi :
1.    Observasi peningkatan gelisah, emosi labil.
Rasional : Memburuknya penyakit dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas.
2.    Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan.
Rasional : Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energi.
3.    Tunjukkan/ Bantu dengan teknik relaksasi, meditasi, bimbingan imajinasi.
Rasional : Memberikan kesempatan untuk pasien menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol.
4.    Identifikasi perspsi klien terhadap ancaman yang ada oleh situasi.
Rasional : Membantu pengenalan ansietas/ takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk individu.

5.    Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan.
Rasional : Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi.


d.    Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.
Dapat dihubungkan :
·        Kurang informasi.
·        Kesalahan interpretasi informasi.
·        Kurang mengingat.
Ø Kriteria hasil :
ü Menjelaskan hubungan antara proses penyakit dan terapi.
ü Menggambarkan/ menyatakan diet, obat, dan program aktivitas.
ü Mengidentifikasi dengan benar tanda dan gejala yang memerlukan perhatian medik.
ü Membuat perencanaan untuk perawatan lanjut.
Ø Intervensi :
1.    Dorong belajar untuk memenuhi kebutuhan pasien. Beriak informasi dalam cara yang jelas/ ringkas.
Rasional : Sembuh dari gangguan gagal paru dapat sangat menghambat lingkup perhatian pasien, konsentrasi dan energi untuk penerimaan informasi/ tugas baru.
2.    Berikan informasi verbal dan tertulis tentang obat
Rasional : Pemberian instruksi penggunaan obat yang aman memmampukan pasien untuk mengikuti dengan tepat program pengobatan.


3.    Kaji konseling nutrisi tentang rencana makan; kebutuhan makanan kalori tinggi.
Rasional : Pasien dengan masalah pernafasan berat biasanya mengalami penurunan berat badan dan anoreksia sehingga memerlukan peningkatan nutrisi untuk menyembuhan.
4.    Berikan pedoman untuk aktivitas.
Rasional : Pasien harus menghindari untuk terlalu lelah dan mengimbangi periode istirahatdan aktivitas untuk meningkatkan regangan/ stamina dan mencegah konsumsi/ kebutuhan oksigen berlebihan.

2.  Pascaoperasi (Doenges, 1999)
a.   Kerusakan pertukaran gas.
Ø Dapat dihubungkan :
ü Pengangkatan jaringan paru
ü Gangguan suplai oksigen
ü Penurunan kapasitas pembawa oksigen darah (kehilangan darah).
Ø Kriteria hasil :
ü Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal.
ü Bebas gejala distress pernafasan.
Ø Intervensi :
1.    Catat frekuensi, kedalaman dan kemudahan pernafasan. Observasi penggunaan otot bantu, nafas bibir, perubahan kulit/ membran mukosa.
Rasional : Pernafasan meningkat sebagai akibat nyeri atau sebagai mekanisme kompensasi awal terhadap hilangnya jaringan paru.





2.    Auskultasi paru untuk gerakamn udara dan bunyi nafas tak normal.
Rasional : Konsolidasi dan kurangnya gerakan udara pada sisi yang dioperasi normal pada pasien pneumonoktomi. Namun, pasien lubektomi harus menunjukkan aliran udara normal pada lobus yang masih ada.
3.    Pertahankan kepatenan jalan nafas pasien dengan memberikan posisi, penghisapan, dan penggunaan alat
Rasional : Obstruksi jalan nafas mempengaruhi ventilasi, menggangu pertukaran gas.
4.    Ubah posisi dengan sering, letakkan pasien pada posisi duduk juga telentang sampai posisi miring.
Rasional : Memaksimalkan ekspansi paru dan drainase sekret.
5.    Dorong/ bantu dengan latihan nafas dalam dan nafas bibir dengan tepat.
Rasional : Meningkatkan ventilasi maksimal dan oksigenasi dan menurunkan/ mencegah atelektasis.

b.  Bersihan jalan nafas tidak efektif
Ø Dapat dihubungkan :
ü Peningkatan jumlah/ viskositas sekret
ü Keterbatasan gerakan dada/ nyeri.
ü Kelemahan/ kelelahan.
Ø Kriteria hasil :
ü Menunjukkan patensi jalan nafas, dengan cairan sekret mudah dikeluarkan, bunyi nafas jelas, dan pernafasan tak bising.
Ø Intervensi :
1.    Auskultasi dada untuk karakteristik bunyi nafas dan adanya sekret.
Rasional : Pernafasan bising, ronki, dan mengi menunjukkan tertahannya sekret dan/ atau obstruiksi jalan nafas.
2.    Bantu pasien dengan/ instruksikan untuk nafas dalam efektif dan batuk dengan posisi duduk tinggi dan menekan daerah insisi.
Rasional : Posisi duduk memungkinkan ekspansi paru maksimal dan penekanan menmguatkan upaya batuk untuk memobilisasi dan membuang sekret. Penekanan dilakukan oleh perawat.
3.    Observasi jumlah dan karakter sputum/ aspirasi sekret.
Rasional : Peningkatan jumlah sekret tak berwarna / berair awalnya normal dan harus menurun sesuai kemajuan penyembuhan.
4.    Dorong masukan cairan per oral (sedikitnya 2500 ml/hari) dalam toleransi jantung.
Rasional : Hidrasi adekuat untuk mempertahankan sekret hilang/ peningkatan pengeluaran.
5.    Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, dan/ atau analgetik sesuai indikasi.
Rasional : Menghilangkan spasme bronkus untuk memperbaiki aliran udara, mengencerkan dan menurunkan viskositas sekret.

c.   Nyeri (akut).
Ø Dapat dihubungkan :
ü Insisi bedah, trauma jaringan, dan gangguan saraf internal.
ü Adanya selang dada.
ü Invasi kanker ke pleura, dinding dada
Ø Kriteria hasil :
ü Melaporkan neyri hilang/ terkontrol.
ü Tampak rileks dan tidur/ istirahat dengan baik.
ü Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/ dibutuhkan.


Ø Intervensi :
1.        Tanyakan pasien tentang nyeri. Tentukan karakteristik nyeri. Buat rentang intensitas pada skala 0 – 10.
Rasional : Membantu dalam evaluasi gejala nyeri karena kanker. Penggunaan skala rentang membantu pasien dalam mengkaji tingkat nyeri dan memberikan alat untuk evaluasi keefktifan analgesic, meningkatkan control nyeri.
2.        Kaji pernyataan verbal dan non-verbal nyeri pasien.
Rasional : Ketidaklsesuaian antar petunjuk verbal/ non verbal dapat memberikan petunjuk derajat nyeri, kebutuhan/ keefketifan intervensi.
3.        Catat kemungkinan penyebab nyeri patofisologi dan psikologi.
Rasional : Insisi posterolateral lebih tidak nyaman untuk pasien dari pada insisi anterolateral. Selain itu takut, distress, ansietas dan kehilangan sesuai diagnosa kanker dapat mengganggu kemampuan mengatasinya.
4.        Dorong menyatakan perasaan tentang nyeri.
Rasional : Takut/ masalah dapat meningkatkan tegangan otot dan menurunkan ambang persepsi nyeri.
5.        Berikan tindakan kenyamanan. Dorong dan ajarkan penggunaan teknik relaksasi
Rasional : Meningkatkan relaksasi dan pengalihan perhatian.

d.  Anxietas.
Ø Dapat dihubungkan:
ü Krisis situasi
ü Ancaman/ perubahan status kesehatan
ü Adanya ancman kematian.
Ø Kriteria hasil :
ü Mengakui dan mendiskusikan takut/ masalah
ü Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan wajah tampak rileks/ istirahat
ü Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.
Ø Intervensi :
1.    Evaluasi tingkat pemahaman pasien/ orang terdekat tentang diagnosa.
Rasional : Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi perubahan ada gambaran diri dan pola hidup. Pemahaman persepsi ini melibatkan susunan tekanan perawatan individu dan memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat.
2.    Akui rasa takut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan
Rasional : Dukungan memampukan pasien mulai membuka atau menerima kenyataan kanker dan pengobatannya.
3.    Terima penyangkalan pasien tetapi jangan dikuatkan.
Rasional : Bila penyangkalan ekstrem atau ansiatas mempengaruhi kemajuan penyembuhan, menghadapi isu pasien perlu dijelaskan dan emebuka cara penyelesaiannya.
4.    Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Yakinkan bahwa pasien dan pemberi perawatan mempunyai pemahaman yang sama.
Rasional : Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/ salah interpretasi terhadap informasi.
5.    Libatkan pasien/ orang terdekat dalam perencanaan perawatan. Rasional : Dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol/ kemandirian pada pasien yang merasa tek berdaya dalam menerima pengobatan dan diagnosa.
6.    Berikan kenyamanan fiik pasien.
Rasional : Ini sulit untuk menerima dengan isu emosi bila pengalaman ekstrem/ ketidaknyamanan fisik menetap.


e.   Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.
Ø Dapat dihubungkan :
ü Kurang atau tidak mengenal informasi/ sumber
ü Salah interperatasi informasi.
ü Kurang mengingat
Ø Kriteria hasil :
§    Menyatakan pemahaman seluk beluk diagnosa, program pengobatan.
§    Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan tindakan tersebut.
§    Berpartisipasi dalam proses belajar.
§    Melakukan perubahan pola hidup.
Ø Intervensi :
1.    Diskusikan diagnosa, rencana/ terapi sasat ini dan hasil yang diharapkan.
Rasional : Memberikan informasi khusus individu, membuat pengetahuan untuk belajar lanjut tentang manajemen di rumah. Radiasi dan kemoterapi dapat menyertai intervensi bedah dan informasi penting untuk memampukan pasien/ orang terdekat untuk membuat keputusan berdasarkan informasi.
2.    Kuatkan penjelasan ahli bedah tentang prosedur pembedahan dengan memberikan diagram yang tepat. Rasional : Lamanya rehabilitasi dan prognosis tergantung pada tipe pembedahan, kondisi preoperasi, dan lamanya/ derajat komplikasi.
3.    Diskusikan perlunya perencanaan untuk mengevaluasi perawatan saat pulang.
Rasional : Pengkajian evaluasi status pernafasan dan kesehatan umum penting sekali untuk meyakinkan penyembuhan optimal.