Kamis, 20 Februari 2014

ASKEP KANKER PARU




I.      Konsep Medis

A.  Defenisi
Kanker paru merupakan keganasan pada jaringan paru (Price, 1994). Kanker paru merupakan abnormalitas dari sel – sel yang mengalami proliferasi dalam paru (Underwood, 1999).


B.   Etiologi
Penyabab kanker paru (Price, 1994) yaitu :
1.      Merokok
2.      Merokok Pasif
3.      Radon Gas
4.      Kecenderungan Keluarga
5.      Penyakit-Penyakit Paru
6.      Sejarah Kanker Paru sebelumnya
7.      Polusi Udara  
8.      Kekurangan Vitamin A dan C


C.   Patofisiologi
Sebab-sebab keganasan pada tumor masih belum jelas, tetapi virus, faktor lingkungan, faktor hormonal dan faktor genetik semuanya berkaitan dengan risiko terjadi tumor. Permulaan terjadinya tumor dimulai dengan adanya zat yang bersifat initiation yang merangsang permulaan terjadinya perubahan sel. Diperlukan perangsangan yang lama dan berkesinambungan untuk memici timbulnya penyakit tumor.

D.  Manifestasi klinis
Tanda dan gejala penyakit kanker paru (Underwood, 1999) yaitu :
1.      Gejala awal. Stridor lokal dan dispnea ringan yang mungkin disebabkan oleh obstruksi pada bronkus.
2.      Gejala umum.
a.      Batuk : Kemungkinan akibat iritasi yang disebabkan oleh massa tumor. Batuk   mulai sebagai batuk kering tanpa membentuk sputum,
b.      Hemoptisis : Sputum bersemu darah karena sputum melalui permukaan tumor   yang mengalami ulserasi.
c.       Anoreksia, lelah, berkurangnya berat badan.

E.  Pemeriksaan diagnostik
1.   Radiologi. (Price, 1994)
1.      Foto thorax posterior – anterior (PA) dan leteral serta Tomografi dada.
Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa udara pada bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau vertebra.
2.      Bronkhografi.Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.
2.  Laboratorium.
a.       Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe).


F.   Penatalaksanaan
Menunjang pengobatan kuratif, paliatif dan terminal sepertia pemberian nutrisi,  tranfusi darah dan komponen darah, obat anti nyeri dan anti infeksi. (Soeparman, 1998)
Ø  Pembedahan.
Tujuan pada pembedahan kanker paru sama seperti penyakit paru lain, untuk mengankat semua jaringan yang sakit sementara mempertahankan sebanyak mungkin fungsi paru –paru yang tidak terkena kanker.
1.        Toraktomi eksplorasi.
Untuk mengkomfirmasi diagnosa tersangka penyakit paru atau toraks khususnya karsinoma, untuk melakukan biopsy.
2.        Pneumonektomi pengangkatan paru.
Karsinoma bronkogenik bilaman dengan lobektomi tidak semua lesi bisa diangkat.
3.        Lobektomi (pengangkatan lobus paru).
Karsinoma bronkogenik yang terbatas pada satu lobus, bronkiaktesis bleb atau bula emfisematosa; abses paru; infeksi jamur; tumor jinak tuberkulois.
4.        Resesi segmental.
Merupakan pengankatan satau atau lebih segmen paru.
5.        Resesi baji.
Tumor jinak dengan batas tegas, tumor metas metik, atau penyakit peradangan yang terlokalisir. Dekortikasi.
Merupakan pengangkatan bahan – bahan fibrin dari pleura viscelaris)
Ø Radiasi
Pada beberapa kasus, radioterapi dilakukan sebagai pengobatan kuratif dan bisa juga sebagai terapi adjuvant/ paliatif pada tumor dengan komplikasi,
Kemoterafi.
Kemoterapi digunakan untuk mengganggu pola pertumbuhan tumor, untuk menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasi luas serta untuk melengkapi bedah atau terapi radiasi.






II.   Konsep Keperawatan

A.    Pengkajian
1.    Preoperasi (Doenges, 1999)
a.    Aktivitas/ istirahat.
§  Gejala : Kelemahan, ketidakmampuan mempertahankan kebiasaan rutin,
§   Tanda : Kelesuan( biasanya tahap lanjut).
b.    Sirkulasi.
§  Gejala : (obstruksi vana kava).Bunyi jantung : gesekan pericardial (menunjukkan efusi).Takikardi/ disritmia.Jari tabuh.
c.     Integritas ego.
§  Gejala : Perasaan taku. Takut hasil pembedahanMenolak kondisi yang berat
§  Tanda : Kegelisahan, insomnia, pertanyaan yang diulang – ulang.
d.    Eliminasi.
§  Gejala : Diare yang hilang timbul (karsinoma sel kecil).Peningkatan frekuensi/ jumlah urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor epidermoid)
e.     Makanan/ cairan.
§  Gejala : Penurunan berat badan, nafsu makan buruk, penurunan masukanmakanan.Kesulitan menelanHaus/ peningkatan masukan cairan.
§  Tanda : Kurus, atau penampilan kurang berbobot (tahap lanjut)Edema wajah/ leher, dada punggung (obstruksi vena kava), edema wajah/ periorbital (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)Glukosa dalam urine (ketidakseimbangan hormonal, tumor epidermoid).
f.     Nyeri/ kenyamanan.
§  Gejala : Nyeri dada (tidak biasanya ada pada tahap dini dan tidak selalu pada tahap lanjut) dimana dapat/ tidak dapat dipengaruhi oleh perubahan posisi.Nyeri bahu/ tangan (khususnya pada sel besar atau adenokarsinoma)Nyeri abdomen hilang timbul.
g.    Pernafasan.
§  Gejala : Batuk ringan atau perubahan pola batuk dari biasanya dan atauproduksi sputum.Nafas pendekPekerja yang terpajan polutan, debu industriSerak, paralysis pita suara.Riwayat merokok
§  Tanda : Dispnea, meningkat dengan kerjaPeningkatan fremitus taktil (menunjukkan konsolidasi)Krekels/ mengi pada inspirasi atau ekspirasi (gangguan aliran udara), krekels/ mengi menetap; pentimpangan trakea ( area yang mengalami lesi).Hemoptisis.
h.     Keamanan.
§  Tanda : Demam mungkin ada (sel besar atau karsinoma)Kemerahan, kulit pucat (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)
i.     Seksualitas.
§  Tanda : Ginekomastia (perubahan hormone neoplastik, karsinoma selbesar)Amenorea/ impotent (ketidakseimbangan hormonal, karsinoma sel kecil)
j.      Penyuluhan.
§  Gejala : Faktor resiko keluarga, kanker(khususnya paru), tuberculosisKegagalan untuk membaik.

2.    Pascaoperasi (Doenges, 1999)
v Karakteristik dan kedalaman pernafasan dan warna kulit pasien
v Frekuensi dan irama jantung.
v Pemeriksaan laboratorium yang terkait (GDA. Elektolit serum, Hb dan Ht).
v Pemantauan tekanan vena sentral.
v Status nutrisi.
v Status mobilisasi ekstremitas khususnya ekstremitas atas di sisi yang di operasi.
v Kondisi dan karakteristik water seal drainase.
a.    Aktivitas atau istirahat.
§  Gejala : Perubahan aktivitas, frekuensi tidur berkurang.
b.    Sirkulasi.
§  Tanda : denyut nadi cepat, tekanan darah tinggi.3). Eliminasi.
§  Gejala : menurunnya frekuensi eliminasi BABTanda : Kateter urinarius terpasang/ tidak, karakteristik urineBisng usus, samara atau jelas.
c.     Makanan dan cairan.
§  Gejala : Mual atau muntah




d.    Neurosensori.
§  Gejala : Gangguan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anastesi.
e.     Nyeri dan ketidaknyamanan.
§  Gejala : Keluhan nyeri, karakteristik nyeriNyeri, ketidaknyamanan dari berbagai sumber misalnya insisiAtau efek – efek anastesi.

B.    Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
1.    Preoperasi (Doenges, 1999)
a.    Kerusakan pertukaran gas
Ø Dapat dihubungkan :
ü Hipoventilasi.
Ø Kriteria hasil :
ü Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisi adekuat dengan GDA dalam rentang normal dan bebas gejala distress pernafasan.
ü Berpartisipasi dalam program pengobatan, dalam kemampuan/ situasi.Intervensi
Ø Intervensi :
1.    Kaji status pernafasan dengan sering, catat peningkatan frekuensi atau upaya pernafasan atau perubahan pola nafas.
Rasional : Dispnea merupakan mekanisme kompensasi adanya tahanan jalan nafas.
2.    Catat ada atau tidak adanya bunyi tambahan dan adanya bunyi tambahan, misalnya krekels, mengi.
Rasional : Bunyi nafas dapat menurun, tidak sama atau tak ada pada area yang sakit.Krekels adalah bukti peningkatan cairan dalam area jaringan sebagai akibat peningkatan permeabilitas membrane alveolar-kapiler.
3.    Kolaborasi pemberian oksigen lembab sesuai indikasi
Rasional : Memaksimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran.
4.    Awasi atau gambarkan seri GDA.
Rasional : Menunjukkan ventilasi atau oksigenasi. Digunakan sebagai dasar evaluasi keefktifan terapi atau indikator kebutuhan perubahan terapi.

b.    Bersihan jalan nafas tidak efektif. Dapat dihubungkan :
·     Kehilangan fungsi silia jalan nafas
·     Peningkatan jumlah/ viskositas sekret paru.
·     Meningkatnya tahanan jalan nafas
Ø Kriteria hasil :
ü Menyatakan/ menunjukkan hilangnya dispnea.
ü Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih
ü Mengeluarkan sekret tanpa kesulitan.
Ø Intervensi :
1.    Catat perubahan upaya dan pola bernafas.
Rasional : Penggunaan otot interkostal/ abdominal dan pelebaran nasal menunjukkan peningkatan upaya bernafas.
2.    Observasi penurunan ekspensi dinding dada dan adanya.
Rasional : Ekspansi dad terbatas atau tidak sama sehubungan dengan akumulasi cairan, edema, dan sekret dalam seksi lobus.
3.    Catat karakteristik batuk (misalnya, menetap, efektif, tak efektif), juga produksi dan karakteristik sputum.
Rasional : Karakteristik batuk dapat berubah tergantung pada penyebab/ etiologi gagal perbafasan. Sputum bila ada mungkin banyak, kental, berdarah, adan/ atau puulen.
4.    Pertahankan posisi tubuh/ kepala tepat dan gunakan alat jalan nafas sesuai kebutuhan.
Rasional : Memudahkan memelihara jalan nafas atas paten bila jalan nafas pasein dipengaruhi.

5.    Kolaborasi pemberian bronkodilator, contoh aminofilin, albuterol Awasi efek samping merugikan dari obat, contoh takikardi, hipertensi, tremor, insomnia.
Rasional : Obat diberikan untuk menghilangkan spasme bronkus, menurunkan viskositas sekret, memperbaiki ventilasi, dan memudahkan pembuangan sekret.

c.     Ketakutan/Anxietas.Dapat dihubungkan :
·     Krisis situasi
·     Ancaman untuk/ perubahan status kesehatan, takut mati.
·     Faktor psikologis.
Ø Kriteria hasil :
ü Menyatakan kesadaran terhadap ansietas dan cara sehat untuk mengatasinya.
ü Mengakui dan mendiskusikan takut.
ü Tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatangani.
ü Menunjukkan pemecahan masalah dan pengunaan sumber efektif.
Ø Intervensi :
1.    Observasi peningkatan gelisah, emosi labil.
Rasional : Memburuknya penyakit dapat menyebabkan atau meningkatkan ansietas.
2.    Pertahankan lingkungan tenang dengan sedikit rangsangan.
Rasional : Menurunkan ansietas dengan meningkatkan relaksasi dan penghematan energi.
3.    Tunjukkan/ Bantu dengan teknik relaksasi, meditasi, bimbingan imajinasi.
Rasional : Memberikan kesempatan untuk pasien menangani ansietasnya sendiri dan merasa terkontrol.
4.    Identifikasi perspsi klien terhadap ancaman yang ada oleh situasi.
Rasional : Membantu pengenalan ansietas/ takut dan mengidentifikasi tindakan yang dapat membantu untuk individu.

5.    Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan perasaan.
Rasional : Langkah awal dalam mengatasi perasaan adalah terhadap identifikasi dan ekspresi. Mendorong penerimaan situasi dan kemampuan diri untuk mengatasi.


d.    Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.
Dapat dihubungkan :
·        Kurang informasi.
·        Kesalahan interpretasi informasi.
·        Kurang mengingat.
Ø Kriteria hasil :
ü Menjelaskan hubungan antara proses penyakit dan terapi.
ü Menggambarkan/ menyatakan diet, obat, dan program aktivitas.
ü Mengidentifikasi dengan benar tanda dan gejala yang memerlukan perhatian medik.
ü Membuat perencanaan untuk perawatan lanjut.
Ø Intervensi :
1.    Dorong belajar untuk memenuhi kebutuhan pasien. Beriak informasi dalam cara yang jelas/ ringkas.
Rasional : Sembuh dari gangguan gagal paru dapat sangat menghambat lingkup perhatian pasien, konsentrasi dan energi untuk penerimaan informasi/ tugas baru.
2.    Berikan informasi verbal dan tertulis tentang obat
Rasional : Pemberian instruksi penggunaan obat yang aman memmampukan pasien untuk mengikuti dengan tepat program pengobatan.


3.    Kaji konseling nutrisi tentang rencana makan; kebutuhan makanan kalori tinggi.
Rasional : Pasien dengan masalah pernafasan berat biasanya mengalami penurunan berat badan dan anoreksia sehingga memerlukan peningkatan nutrisi untuk menyembuhan.
4.    Berikan pedoman untuk aktivitas.
Rasional : Pasien harus menghindari untuk terlalu lelah dan mengimbangi periode istirahatdan aktivitas untuk meningkatkan regangan/ stamina dan mencegah konsumsi/ kebutuhan oksigen berlebihan.

2.  Pascaoperasi (Doenges, 1999)
a.   Kerusakan pertukaran gas.
Ø Dapat dihubungkan :
ü Pengangkatan jaringan paru
ü Gangguan suplai oksigen
ü Penurunan kapasitas pembawa oksigen darah (kehilangan darah).
Ø Kriteria hasil :
ü Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal.
ü Bebas gejala distress pernafasan.
Ø Intervensi :
1.    Catat frekuensi, kedalaman dan kemudahan pernafasan. Observasi penggunaan otot bantu, nafas bibir, perubahan kulit/ membran mukosa.
Rasional : Pernafasan meningkat sebagai akibat nyeri atau sebagai mekanisme kompensasi awal terhadap hilangnya jaringan paru.





2.    Auskultasi paru untuk gerakamn udara dan bunyi nafas tak normal.
Rasional : Konsolidasi dan kurangnya gerakan udara pada sisi yang dioperasi normal pada pasien pneumonoktomi. Namun, pasien lubektomi harus menunjukkan aliran udara normal pada lobus yang masih ada.
3.    Pertahankan kepatenan jalan nafas pasien dengan memberikan posisi, penghisapan, dan penggunaan alat
Rasional : Obstruksi jalan nafas mempengaruhi ventilasi, menggangu pertukaran gas.
4.    Ubah posisi dengan sering, letakkan pasien pada posisi duduk juga telentang sampai posisi miring.
Rasional : Memaksimalkan ekspansi paru dan drainase sekret.
5.    Dorong/ bantu dengan latihan nafas dalam dan nafas bibir dengan tepat.
Rasional : Meningkatkan ventilasi maksimal dan oksigenasi dan menurunkan/ mencegah atelektasis.

b.  Bersihan jalan nafas tidak efektif
Ø Dapat dihubungkan :
ü Peningkatan jumlah/ viskositas sekret
ü Keterbatasan gerakan dada/ nyeri.
ü Kelemahan/ kelelahan.
Ø Kriteria hasil :
ü Menunjukkan patensi jalan nafas, dengan cairan sekret mudah dikeluarkan, bunyi nafas jelas, dan pernafasan tak bising.
Ø Intervensi :
1.    Auskultasi dada untuk karakteristik bunyi nafas dan adanya sekret.
Rasional : Pernafasan bising, ronki, dan mengi menunjukkan tertahannya sekret dan/ atau obstruiksi jalan nafas.
2.    Bantu pasien dengan/ instruksikan untuk nafas dalam efektif dan batuk dengan posisi duduk tinggi dan menekan daerah insisi.
Rasional : Posisi duduk memungkinkan ekspansi paru maksimal dan penekanan menmguatkan upaya batuk untuk memobilisasi dan membuang sekret. Penekanan dilakukan oleh perawat.
3.    Observasi jumlah dan karakter sputum/ aspirasi sekret.
Rasional : Peningkatan jumlah sekret tak berwarna / berair awalnya normal dan harus menurun sesuai kemajuan penyembuhan.
4.    Dorong masukan cairan per oral (sedikitnya 2500 ml/hari) dalam toleransi jantung.
Rasional : Hidrasi adekuat untuk mempertahankan sekret hilang/ peningkatan pengeluaran.
5.    Kolaborasi pemberian bronkodilator, ekspektoran, dan/ atau analgetik sesuai indikasi.
Rasional : Menghilangkan spasme bronkus untuk memperbaiki aliran udara, mengencerkan dan menurunkan viskositas sekret.

c.   Nyeri (akut).
Ø Dapat dihubungkan :
ü Insisi bedah, trauma jaringan, dan gangguan saraf internal.
ü Adanya selang dada.
ü Invasi kanker ke pleura, dinding dada
Ø Kriteria hasil :
ü Melaporkan neyri hilang/ terkontrol.
ü Tampak rileks dan tidur/ istirahat dengan baik.
ü Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/ dibutuhkan.


Ø Intervensi :
1.        Tanyakan pasien tentang nyeri. Tentukan karakteristik nyeri. Buat rentang intensitas pada skala 0 – 10.
Rasional : Membantu dalam evaluasi gejala nyeri karena kanker. Penggunaan skala rentang membantu pasien dalam mengkaji tingkat nyeri dan memberikan alat untuk evaluasi keefktifan analgesic, meningkatkan control nyeri.
2.        Kaji pernyataan verbal dan non-verbal nyeri pasien.
Rasional : Ketidaklsesuaian antar petunjuk verbal/ non verbal dapat memberikan petunjuk derajat nyeri, kebutuhan/ keefketifan intervensi.
3.        Catat kemungkinan penyebab nyeri patofisologi dan psikologi.
Rasional : Insisi posterolateral lebih tidak nyaman untuk pasien dari pada insisi anterolateral. Selain itu takut, distress, ansietas dan kehilangan sesuai diagnosa kanker dapat mengganggu kemampuan mengatasinya.
4.        Dorong menyatakan perasaan tentang nyeri.
Rasional : Takut/ masalah dapat meningkatkan tegangan otot dan menurunkan ambang persepsi nyeri.
5.        Berikan tindakan kenyamanan. Dorong dan ajarkan penggunaan teknik relaksasi
Rasional : Meningkatkan relaksasi dan pengalihan perhatian.

d.  Anxietas.
Ø Dapat dihubungkan:
ü Krisis situasi
ü Ancaman/ perubahan status kesehatan
ü Adanya ancman kematian.
Ø Kriteria hasil :
ü Mengakui dan mendiskusikan takut/ masalah
ü Menunjukkan rentang perasaan yang tepat dan penampilan wajah tampak rileks/ istirahat
ü Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi.
Ø Intervensi :
1.    Evaluasi tingkat pemahaman pasien/ orang terdekat tentang diagnosa.
Rasional : Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi perubahan ada gambaran diri dan pola hidup. Pemahaman persepsi ini melibatkan susunan tekanan perawatan individu dan memberikan informasi yang perlu untuk memilih intervensi yang tepat.
2.    Akui rasa takut/ masalah pasien dan dorong mengekspresikan perasaan
Rasional : Dukungan memampukan pasien mulai membuka atau menerima kenyataan kanker dan pengobatannya.
3.    Terima penyangkalan pasien tetapi jangan dikuatkan.
Rasional : Bila penyangkalan ekstrem atau ansiatas mempengaruhi kemajuan penyembuhan, menghadapi isu pasien perlu dijelaskan dan emebuka cara penyelesaiannya.
4.    Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Yakinkan bahwa pasien dan pemberi perawatan mempunyai pemahaman yang sama.
Rasional : Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/ salah interpretasi terhadap informasi.
5.    Libatkan pasien/ orang terdekat dalam perencanaan perawatan. Rasional : Dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol/ kemandirian pada pasien yang merasa tek berdaya dalam menerima pengobatan dan diagnosa.
6.    Berikan kenyamanan fiik pasien.
Rasional : Ini sulit untuk menerima dengan isu emosi bila pengalaman ekstrem/ ketidaknyamanan fisik menetap.


e.   Kurang pengetahuan mengenai kondisi, tindakan, prognosis.
Ø Dapat dihubungkan :
ü Kurang atau tidak mengenal informasi/ sumber
ü Salah interperatasi informasi.
ü Kurang mengingat
Ø Kriteria hasil :
§    Menyatakan pemahaman seluk beluk diagnosa, program pengobatan.
§    Melakukan dengan benar prosedur yang perlu dan menjelaskan alasan tindakan tersebut.
§    Berpartisipasi dalam proses belajar.
§    Melakukan perubahan pola hidup.
Ø Intervensi :
1.    Diskusikan diagnosa, rencana/ terapi sasat ini dan hasil yang diharapkan.
Rasional : Memberikan informasi khusus individu, membuat pengetahuan untuk belajar lanjut tentang manajemen di rumah. Radiasi dan kemoterapi dapat menyertai intervensi bedah dan informasi penting untuk memampukan pasien/ orang terdekat untuk membuat keputusan berdasarkan informasi.
2.    Kuatkan penjelasan ahli bedah tentang prosedur pembedahan dengan memberikan diagram yang tepat. Rasional : Lamanya rehabilitasi dan prognosis tergantung pada tipe pembedahan, kondisi preoperasi, dan lamanya/ derajat komplikasi.
3.    Diskusikan perlunya perencanaan untuk mengevaluasi perawatan saat pulang.
Rasional : Pengkajian evaluasi status pernafasan dan kesehatan umum penting sekali untuk meyakinkan penyembuhan optimal.